Setahun Terserang Wabah, Sempat Ingin Menyerah

Setahun Terserang Wabah, Sempat Ingin Menyerah
ILHAM WANCOKO/JAWA POS
KICAU MERDU: Sukardi bersama jalak Bali hasil penangkaran di Cileungsi, Bogor. Menakarkan burung langka tersebut kerap menemui rintangan.
0 Komentar

Namun, penangkaran Sukardi mengalami pasang surut. Pada 2013 ada wabah penyakit burung. Lebih dari seratus anakan jalak bali mati lantaran penyakit itu. Wabahnya membawa dua penyakit. Yang satu penyakit seperti sariawan dan lainnya berak hijau. ”Anakan jalak bali tidak mau makan karena sariawan. Kotorannya juga warnanya hijau dan berbau,” tuturnya.

Puluhan dokter hewan sudah didatangkan. Berbagai merek obat juga sudah dicoba. Semua tidak mempan. Dia sudah berpikir untuk menyerah dan siap menghentikan penangkaran. ”Saya cari dokter hewan khusus burung tidak ada. Setahu saya hanya satu di UGM,” ujarnya.

Saking mewabahnya penyakit itu, dia sampai mendengar hampir semua penangkaran di Indonesia mengalami hal serupa. ”Di Klaten, Bandung, dan Medan juga mengalami,” ungkapnya.

Baca Juga:Pemprov Efisiensi Dana PilkadaGMBI Keluarkan Petisi untuk Usulkan Pembubaran FPI

Walau tidak memiliki obatnya, lambat laun wabah itu mulai menghilang. Wabah tersebut terjadi hampir setahun penuh. ”Saat itu indukan masih banyak, tapi anakan habis. Sampai sekarang saya tidak mengetahui apa obat untuk penyakit itu,” katanya.

Kini Sukardi masuk fase menikmati hasil jerih payahnya. Namun, dia tidak berhenti. Ketua Paguyuban Penangkar Jalak Bali (PPJB) itu turut menekan penangkapan burung liar. Burung tangkapan dari alam itu bisa dideteksi dari cincin dan sertifikat. Jika tidak bersertifikat dan bercincin, burung dapat dipastikan tangkapan dari alam. ”Maka, kami tidak perbolehkan ikut lomba,” jelasnya.

Targetnya kini adalah membuat jalak bali bukan lagi satwa langka di Indonesia. Namun, tetap menjadi satwa yang dilindungi. ”Sebenarnya lambat laun mulai terasa. Dulu harga sepasang jalak bali anakan Rp 13 juta, sekarang Rp 6 juta,” tuturnya. Sampai saat ini Sukardi telah membiakkan 1.070 jalak bali. Selain jalak bali, ada berbagai burung yang dikembangbiakkan. Di antaranya, cucakrawa, murai batu, jalak putih, jalak suren, jalak hongkong, dan kacer. ”Sebenarnya ini industri besar, mulai kandang hingga pakan. Tapi, masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah,” ujarnya. (*/c10/oki/rie)

0 Komentar