Mainkan Imajinasi Penonton

Mainkan Imajinasi Penonton
BERMAIN ATRAKTIF: Seniman asal Lampung yang tergabung dalam Teater Satu menampilkan lakon berjudul Kursi - Kursi di Gedung Kesenian Dunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Jalan Buah Batu, Kota Bandung, Selasa (10/1) malam. Kursi-kursi karya Eugene Lonesco hasil terjemahan Profesor Yudiaryani ini menceritakan sejarah Prancis pasca perang dunia II, dikemas dengan memadukan pola-pola acting naturalisme Stanislavski, ekpresionisme, irama pantomim, tarian, dan komedi fisik, juga musik dan lagu dari berbagai khasanah kebudayaan
0 Komentar

”Demikian saya membangun situasi Absurd dalam pertunjukan ’kursi-kursi’. Ia sebuah game, suatu permainan, sebuah cara untuk terus menerus mengelak dari ’batas’ atau akhir yang tertutup dan defenitif. Sebuah absurditas yang masih memberi tempat bagi harapan (kemungkinan),” ujar dia.

Sementara Ari Pahala Hutabarat atau yang kerap disapa Ari, sutradara dan sekaligus Ketua Kober Lampung mengatakan, pertunjukannya berpijak dari pemikiran Theatron sebagai tempat untuk ’melihat’, tempat untuk ’menyaksikan’ dan menjadi ’saksi’ atau syahadah.

”Untuk melihat hal yang tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Untuk melihat laku yang lebih dalam, intens, organik sekaligus arketipal, yang muncul bukan sekadar dari pikiran dan emosi personal. Untuk melihat topeng, Persona, dikelupas dari wajah para aktor. Tempat untuk melihat kenyataan yang jadi transparan. Langit yang membuka pintunya bagi bumi. Lokus bagi tangga Jacob” terangnya.

Baca Juga:Kagumi Kota Bandung Pertahankan Cagar BudayaKucurkan Rp 2,5 Miliar untuk NPCI

Selanjutnya Ari memaparkan, bahwa teks Pilgrim atau teks lain menjadi sarana bagi aktor untuk menaiki tangga Jacob, yang terpancang di Theatron, sekaligus di tubuhnya. Sedangkan akting adalah usaha untuk mendaki tangga tersebut, Mikraj, dan menemukan, bukan yang lain, melainkan Aku-nya, yang primordial sekaligus universal. Pementasan- adalah Laku yang selalu terasa sunyi, tempat di mana para aktor terus-menerus berujar pada keangkuhan kognisinya. ”Aku lah hamba, cermin, yang terpantul selarik, hilang sebukit,” (fik)

0 Komentar