Menikmati Sensasi Tur di Padang Pasir Konservasi Dubai

Menikmati Sensasi Tur di Padang Pasir Konservasi Dubai
SALSABYL AD’N/JAWAPOS
SENSASI GURUN PASIR: Sejumlah turis saat mencoba sensasi menumpang unta di Depan Kemah Ddcr, beberapa waktu lalu.
0 Komentar

”Itu bukan kambing, itu oryx Arab,” ujarnya. Oryx adalah binatang langka yang dijadikan salah satu hewan ikon UEA. Hampir 50 persen dari populasi oryx Arab hidup liar di wilayah itu.

Mobil berjalan pelan. Sesekali menaiki ”gundukan”. Rupanya, Yaser juga ingin menunjukkan burung alap-alap. Orang Dubai dulu menggunakan burung berbadan besar tersebut untuk berburu hewan kecil seperti kelinci liar atau burung lain. Namun, setelah ada larangan berburu, burung alap-alap hanya digunakan untuk pertunjukan sirkus atau menjadi hewan peliharaan di rumah.

Sesaat kemudian, puluhan mobil SUV yang membawa turis dari berbagai negara berdatangan. Mereka berkonvoi menuju kemah di tengah gurun.

Baca Juga:DPRD Cimahi Siap Bantu KPKGCG bank bjb berpredikat ”Sangat Baik”

Saat itulah yang ditunggu para turis. Mesin mobil mulai berderum untuk menyusuri lautan pasir yang membentang luas. ”Yang belakang harap pasang sabuk,” ujar Yaser, mengingatkan kami. Tak berapa lama, mobil tiba-tiba berlari kencang. Wuzzz….

Mobil lalu naik turun bukit. Dengan cekatan, Yaser membanting setir untuk menggoyang empat penumpang di mobilnya. Kami pun mulai merasakan sensasi tur itu. Guncangan yang hebat bak naik roller coaster. Setelah melaju kencang, tak berapa lama mobil berhenti di tepi ”tebing”. Seolah mobil akan terjun.

Kami pun sempat berteriak histeris. Khawatir mobil benar-benar tersungkur dan jatuh. Namun, itulah sensasi tur tersebut, juga kemahiran Yaser dalam menyenangkan turis yang dibawanya.

Saat melihat ekspresi ketakutan kami, Yaser memutuskan untuk berpisah dari rombongan dan berhenti di tanah lapang. Tampaknya dia tahu bahwa kami bukan penggemar wahana ekstrem yang menantang. ”Kita berhenti di sini saja. Lagi pula, sudah waktunya untuk melihat matahari terbenam,” ucap dia.

Acara menyaksikan matahari tenggelam di ufuk barat memang menjadi puncak dari paket tur padang pasir itu. Kami disuruh untuk keluar dari mobil. Biar leluasa dalam menikmati alam yang indah tersebut. Nah, saat kaki untuk kali pertama menginjak padang pasir, sensasi itu makin terasa.

Sepanjang mata memandang sore itu, tak terlihat jejak kaki manusia. Rasanya seperti masuk kisah-kisah fantasi Timur Tengah. Ditemani angin gurun di musim dingin, sang surya perlahan hilang ditelan bumi. Saat langit sudah membiru, mobil kembali berjalan perlahan ke kemah di tengah gurun, saatnya makan malam.

0 Komentar