Aleta Baun berhasil menyelamatkan lingkungan tempat tinggalnya dari kerusakan. Bersama ibu-ibu di kampung halamannya, dia menghentikan kegiatan penambangan batu marmer Gunung Mutis di Mollo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
M.HILMI SETIAWAN, Jakarta
TESTIMONI Aleta Baun di forum simposium World Culture Forum (WCF) 2016 di Nusa Dua, Badung, Bali, Selasa lalu (11/10) menghinoptis sekitar 200 peserta. Isi testimoni itu sederhana. Yakni kisahnya memperjuangkan wilayah adat Mollo, NTT, dari kerusakan lingkungan akibat penambangan liar batu marmer Gunung Mutis.
Tepuk tangan riuh langsung menggema ketika perempuan yang akrab disapa Mama Aleta itu mengakhiri cerita. Dia menutup testimoni dengan penyataan, ”Kita tak jual yang tidak bisa kami buat.”
Baca Juga:19 Kepala Sekolah Kena SanksiPengikut ISIS Kembali Lancarkan Aksi Teror
Perempuan kelahiran Timor Tengah Selatan, 16 Maret 1965, itu mulai bergerak menyelamatkan lingkungan desa adat Mollo pada 1999. Desa adat Mollo mencakup beberapa kecamatan, yakni Mollo Utara, Mollo Selatan, Mollo Tengah, Fatung Nasi, dan Numbena.
Mama Aleta tergerak menyelamatkan desanya karena melihat tanda-tanda kerusakan lingkungan. Di antaranya pasokan air bersih yang menyusut dan bencana tanah longsor yang mengancam.
Dampak kegiatan penambangan batu marmer dan perubahan hutan alam menjadi hutan erosi juga memengaruhi kondisi ekonomi warga. Yakni, area perkebunan menciut, hewan ternak kesulitan merumput, dan warga susah mencari kayu bakar. ”Saya tidak bisa tinggal diam melihat kondisi itu,” kata istri Liftus tersebut.
Praktik pembabatan hutan alam itu, jelas Aleta, mulai berlangsung pada dekade 1980-an. Ada empat perusahaan tambang batu marmer yang beroperasi pada 1995. Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan kalau tidak ingin wilayah desa adat Mollo punah.
Aleta kemudian menggalang dukungan masyarakat, khususnya ibu-ibu. Semangat yang dia bawa kali itu ialah menganalogikan bahwa alam adalah tubuh manusia. Jika alam tempat tinggal manusia rusak, rusak pula tubuh manusia.
Ibu Maria, Yordan, dan Nina tersebut menjelaskan, saat menginisiatori gerakan mengembalikan kelestarian alam desanya itu, dirinya masih berstatus ibu rumah tangga biasa. ”Saat itu anak saya masih dua. Tapi, suami memberikan dukungan penuh,” kenangnya.
Seiring berjalannya waktu, gerakan penolakan tambang batu marmer oleh Aleta tersebut menjadi bola es. Simpati masyarakat terus berdatangan. Akhirnya, sekitar 200 warga memberikan dukungan kepada Aleta untuk terus berjuang. Mayoritas adalah ibu-ibu. Mereka siap sewaktu-waktu dikumpulkan untuk menolak penambangan batu marmer itu.
