Kiai kelahiran Banten 73 tahun lalu itu menuturkan banyak sekali gejala bahwa Indonesia sekarang sedang masa darurat. Seperti maraknya kejahatan seksual pada anak, aksi terorisme, dan narkoba yang terus bergentayangan. Ma’ruf menuturkan umat Islam selayaknya tidak memaknai bulan puasa untuk menjaga ukhuwah Islamiyah saja. ’’Tetapi juga untuk menjaga ukhuwah wathaniyah (hubungan kebangsaan, Red),’’ jelasnya.
Dengan berpuasa umat Islam dituntut untuk menjaga hawa nafsunya. Tidak hanya hawa nafsu untuk tidak makan, tetapi juga untuk perbuatan-perbutan buruk lainnya. Seperti berbuat jahat, korupsi, nafsu birahi, dan lain sebagainya. Setelah bulan puasa selesai, upaya menjaga hawa nafsu itu diharapkan terus dijaga.
Ma’ruf juga menyampaikan rasa syukur bahwa awal bulan puasa tahun ini kompak. Sehingga tidak ada lagi waktu dan tenaga yang terbuang untuk menjelaskan perbedaan-perbedaan seperti yang penah terjadi. ’’Insya Allah lebaran nanti juga kompak,’’ tandasnya.
Baca Juga:Rossi Menang Dramatis di MotoGP Catalunya 2016Italia Berusaha Patahkan Prediksi di Euro 2016
Prediksi Ma’ruf itu tidak asal-asalan. Saat dilakukan pengamatan hilal pada 29 Ramadan nanti, posisi hilal masih di bawah ufuk. Menurut perhitungan astronomi, posisi hilal nanti minus (-) 1 derajat di bawah ufuk. Sehingga jumlah hari bulan puasa digenapkan (isti’mal) menjadi 30 hari. Sehingga 1 Syawal atau lebaran jatuh pada Rabu, 6 Juli. (wan/far/dod/rie)
