oleh

George Soros Biayai Proyek Panama Papers

Padahal, dalam dokumen-dokumen itu Putin tidak disebutkan sebagai klien Mossack Fonseca Co., firma hukum Panama yang menjadi lakon utama skandal tersebut. Tapi, orang-orang dekat Putin tertulis sebagai klien yang memiliki perusahaan offshore atas prakarsa firma hukum yang sudah beroperasi 40 tahun itu. Dan, uang yang mereka ”amankan” mencapai USD 2 miliar (sekitar Rp 26,32 triliun).

ICIJ, kabarnya, mendapatkan sokongan dana dari Soros lewat Yayasan Sosial Terbuka (OSF) miliknya. Keterlibatan OSF itulah yang lantas membuat Kremlin bisa melihat arah tujuan munculnya Panama Papers pada masa persiapan pemilihan presiden (pilpres) Rusia kali ini. ”Soros berseteru dengan Putin terkait operasi OSF di Rusia. Terutama, menjelang pilpres 2018,” terang sumber Kremlin.

Rencananya, Putin bakal kembali mencalonkan diri dalam pilpres 2018 mendatang. Kremlin lantas menuding AS berusaha mencoreng citra pemimpin 63 tahun itu lewat para kroninya yang mempermainkan pajak. Media Rusia, bahkan, menganggap Panama Papers sebagai proyek balas dendam AS atas perlindungan yang diberikan Negeri Beruang Merah itu kepada Edward Snowden dan Julian Assange.

”Ini dokumen yang bisa menimbulkan kekacauan di negara itu. Orang-orang bisa saling pukul dan saling bunuh di sana,” ujar Ian Bremmer dari Eurasia Group tentang Rusia. Panama Papers, menurut dia, adalah ancaman bagi rezim Putin dan Kremlin. Oleh karena itu, dunia harus bisa mengawasi dan mengantisipasi reaksi Rusia atas skandal yang juga menyeret nama para selebritis papan atas tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga