”Harga tersebut merupakan angka dibawah produksi yang terjangkau bagi seluruh masyarakat,” jelasnya. Pihaknya pun tak menutup kemungkinan jika harga tersebut secara bertahap akan dinaikkan. Langkah awalan ini menjadi sebuah tombak dalam mengedukasi masayarakat untuk peduli terhadap pengurangan kantong plastik.
Roy pun menyebutkan bahwa APRINDO juga menunggu terkait aturan mekanisme pembayaran kantong plastik dari pemerintah. ”Yang masuk ke retail sebagai CSR, mana untuk pemerintah yang ditujukan kepada masyarakat khususnya,” ungkapnya.
Tak hanya itu, pihaknya pun menyebutkan bahwa komitmen kantong plastik berbayar ini pun disetujui secara massif oleh seluruh retail di Indonesia. ”Meski tak masuk dalam 23 kota yang disebut, banyak retail yang mendukung komitmen ini,” jelasnya.
Baca Juga:Saatnya Semakin Menjauh BarcaJalan Terjal Laga ke-100 Wenger
Ketua Harin Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan, nominal Rp 200 per bungkus, sepertinya, belum akan memberikan dorongan bagi konsumen untuk tidak menggunakan kantong plastik.
Oleh karena itu, Tulus meminta pemerintah dalam hal ini KLHK untuk melakukan evaluasi rutin atas kebijakan tersebut. Dia menyarankan evaluasi dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. ”Sehingga penerapan plastik berbayar benar-benar bisa menjadi disinsentif bagi konsumen. Tapi, tentu, tetap memperhatikan aspek daya beli konsumen ya,” tutur Tulus.
Di sisi lain, Tulus juga mendesak pemerintah untuk bersikap adil dan balance pada produsen. Dia meminta agar produsen turut diberikan disinsentif agar tidak rakus dengan konsumsi plastik saat berproduksi.
Selain itu, mereka pun harus diwajibkan menarik dan mengumpulkan bekas kemasan plastik di pasaran yang jelas-jelas merusak lingkungan. “Produsen juga wajib membuat kemasan dan bungkus plastik yang mudah diurai oleh lingkungan dan bisa digunakan ulang. Sehingga pengurangan plastik ini bisa lebih terasa hasilnya,” ungkapnya.
GM Corporate Communication PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid mengatakan, Carrefour pada 2012 pernah mencoba untuk tidak memberikan kantong plastik sebagai upaya untuk menjaga lingkungan. Namun saat itu belum mendapat respon baik dari konsumen. ”Yang ada kami diprotes sama pembeli jadi terpaksa berhenti,” ujarnya.
Saat itu, pihaknya coba mengedukasi masyarakat bahwa belanja harus membawa kantong sendiri dari rumah. Atau konsumen bisa membeli kantong belanja tebal yang bisa dipakai berulang-ulang. ”Semoga dengan adanya gerakan nasional ini, konsumen bisa mengerti kalau kantong plastiknya bayar Rp 200. Semua gerai sudah siap,” katanya.
