Toko-Toko yang Dulu Dititipi Produk Masih Trauma

Perakit TV M. Kusrin
M KUSRIN/RADAR SOLO
TERUS BERJUANG: Perakit TV M Kusrin kini kembali bangkir usai diterpa masalah terkait dengan usahanya. Dia terus maju bersama pegawainya.
0 Komentar

Sebanyak 116 televisi yang merupakan 25 persen dari total produksi Kusrin juga dihancurkan petugas Kejari Karanganyar pada Senin pekan lalu (11/1). ’’Tapi, saya bersyukur sisanya masih dikembalikan,’’ kata Kusrin.

Untung, SNI yang diserahkan Menteri Saleh mengakhiri mimpi buruk itu. Kini, dengan segala daya, suami Siti Aminah tersebut berusaha bangkit kembali. Karena modal sudah terkuras dan sebagian pekerja keluar, Kusrin menurunkan target produksi.

Jika sebelum digerebek mampu merakit puluhan TV, kali ini dia hanya memproduksi kalau ada pesanan. Apalagi sejumlah toko elektronik yang pernah dia ’’titipi’’ TV masih ikut trauma. ’’Sekarang mereka pikir-pikir mau ambil barang lagi,’’ terangnya.

Baca Juga:Bahrun Naim Kembali Berulah di BlogOtomotif Pasang Target Tinggi

Tak mudah, memang. Tapi, kata menyerah tak pernah ada dalam kamus hidup Kusrin. Apalagi, untuk bisa sampai ke tahap seperti sebelum dia dirazia aparat, perjuangan demikian berat telah dilaluinya. Sebelum belajar merakit TV dari seorang teman di Solo pada 2011, selama beberapa tahun Kusrin bekerja sebagai buruh bangunan di Jakarta. ’’Saya mulai belajar merakit sendiri. Awalnya beli TV rosokan seharga Rp 80 ribu. Kemudian, setelah berhasil saya perbaiki, dijual lagi laku Rp 200 ribu,’’ tuturnya.

Kusrin belajar merakit setelah membuka usaha servis elektronika. ’’Jadi, bukan hanya TV, saya dulu juga memperbaiki radio rosokan dan saya jual lagi,’’ tutur ayah dua anak itu. Seiring berjalannya waktu, usaha yang sudah dia tekuni tersebut semakin pesat. Dia mulai merekrut karyawan. Setidaknya 20 orang lulusan SMK elektronik dan SMA ikut membantunya merakit TV. ’’Ada yang merakit, ada yang memasarkan,’’ katanya.

Adapun bahan baku TV yang dia buat, tabungnya menggunakan monitor komputer yang dikumpulkan dari pengepul. Dalam proses produksi, monitor itu dipoles dan dirakit. Sedangkan untuk mesin TV, dia membelinya di Bandung dan Solo dan casing di Semarang. TV hasil rakitannya lantas dipasarkan di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jogjakarta. Segmen yang disasar adalah kalangan menengah ke bawah. Harganya berkisar Rp 700 ribu sampai Rp 800 ribu.

Merek-merek yang digunakan Kusrin adalah Veloz, Maxreen, Vitron, dan Zener. ’’Soal kualitas, saya berani bersaing karena gambar dan warna tidak kalah dengan merek ternama,’’ tegasnya. Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Euis Saedah turut mengaku lega karena telah berhasil memberikan sertifikat SNI kepada Kusrin. ’’Saya kagum karena Pak Kusrin orangnya kreatif. Mengubah sesuatu yang seharusnya dibuang menjadi barang baru yang bermanfaat. Kita perlu orang-orang seperti dia,’’ ujarnya.

0 Komentar