Ingin Kuatkan Pembunuh Putrinya

ade sara
Jawapos
SUDAH IKLAS: Elisabeth Diana Dewayani bersama Suroto saat memperlihatkan album foto mendiang Ade Sara.
0 Komentar

Kini curhatan anak terhadap ibu yang kerap terjadi di gerbong kereta itu memang tidak lagi ada. Namun, Elisabeth yakin, ketulusan maaf yang diberikan kepada dua penggirim badai di kehidupannya tersebut akan melapangkan jalan putrinya ke surga.

Punya Banyak Anak Baru

Sejak kelahiran Ade Sara 20 tahun lalu, Elisabeth dan Suroto memutuskan untuk tidak punya anak lagi. Alasannya, ekonomi keluarga mereka saat itu belum baik. Mereka khawatir tidak bisa menghidupi dan membahagiakan buah hatinya.

Pasutri tersebut tentu tidak pernah membayangkan bahwa Tuhan berkehendak lain. Mengambil buah hati satu-satunya saat beranjak dewasa. ”Ndak tahu itu suami saya, mas. Padahal, kalau kata orang Jawa, anak itu kan membawa rezeki,” tutur Elisabeth.

Baca Juga:Berikan Harga Khusus untuk Andromax 4G LTE, Hisense Pureshot dan MiFiAnindya Kusuma Putri Pulang Bawa Gelar Top 15

Elisabeth dan Suroto memang mencurahkan semua yang dimilikinya untuk Ade Sara. Bahkan, mereka harus rela mengesampingkan mempunyai rumah agar uang yang ada bisa digunakan untuk membiayai pendidikan Ade Sara setinggi-tingginya.

”Setelah Sara meninggal ini, kami baru berani mengambil rumah. Sejak Sarah kelas I SD, kami pilih ngontrak di rumah kecil itu untuk bisa memberikan pendidikan yang layak bagi dia,” ujar Suroto yang sore itu menemani istrinya ngobrol di rumah barunya.

Saat ini Elisabeth dan Suroto menghuni rumah sederhana di kompleks Telaga Mas, Bekasi Utara. Sebelumnya, mereka tinggal di kontrakan kecil di daerah kampung Jati, Pulo Gadung, Jakarta Timur. ”Dengan membeli rumah ini, kami juga ingin membuat Sara bahagia. Saat masih hidup, dia ingin sekali orang tuanya bisa memiliki rumah sendiri,” terang pria kelahiran Salatiga, 6 Februari 1973, tersebut.

Kehidupan kini hanya mereka jalani berdua. Elisabeth dan Suroto juga tidak terpikirkan untuk mengadopsi anak sebagai pengganti Ade Sara. ”Kami takut tak bisa memberikan kebahagiaan yang sama. Apalagi, kami tak lagi muda. Nanti, kalau kami pensiun, bagaimana?” kata Elisabeth.

Sepeninggal Ade Sara, Elisabeth dan Suroto justru kedatangan keluarga baru. Ketulusan maaf yang diberikan keluarga itu malah mendatangkan beberapa mahasiswa yang ingin melakukan penelitian dan pembuatan tugas akhir.

”Ada beberapa mahasiswa dari psikologi dan desain komunikasi visual yang sering ke sini. Mereka menjadikan kami bahan penelitian, ya malah punya keluarga baru,” jelasnya.

0 Komentar