Di beberapa media lokal Filipina, Kepala Kepolisian Nasional Filipina atau Philippine National Police (PNP) Ricardo Marquez yang menjadi komandan gugus tugas pengamanan APEC mengatakan, 32 ribu polisi dan tentara dilibatkan. Adapun total 120 ribu polisi di seluruh Filipina dalam posisi siaga satu atau full alert. Untuk pengamanan yang melekat pada kepala negara atau pemimpin delegasi, selain pasukan pengamanan yang dibawa sendiri, ada satu grup pengawal kepresidenan dari Presidential Security Group (PSG) atau semacam Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) di Indonesia.
Untuk delegasi Indonesia, selain pengawalan melekat oleh enam anggota Paspampres, JK dikawal sekitar delapan anggota PSG. Bedanya, jika Paspampres mengenakan setelan jas hitam lengkap, anggota PSG memakai barong, pakaian khas Filipina berwarna krem yang mirip baju koko. Di luar pengawalan melekat, masih ada pasukan pengamanan dari Paspampres maupun PSG yang bergerak, baik dalam seragam resmi maupun intelijen.
Wakil Komandan Paspampres Brigjen Bambang Suswantono yang memimpin pengamanan wakil presiden mengatakan, situasi keamanan Filipina memang masih dibayangi panasnya pemberontakan di bagian selatan negeri tersebut. Apalagi, kemudian ada teror Paris. ’’Saya lihat prosedur pengamanan APEC sudah dijalankan dengan cukup ketat,’’ ujarnya.
Baca Juga:Launching dan Penjualan Perdana Summarecon Bandung SuksesPersiapkan Atlet Masa Depan
Di bagian selatan Filipina memang baru terjadi peristiwa teror, misalnya pemenggalan kepala Bernard Ten Fen, warga negara Malaysia yang disandera kelompok pemberontak Abu Sayyaf. Juga ledakan bom mobil di Davao City Selasa lalu (17/11). Pekan sebelumnya pun ada serangkaian ledakan bom di wilayah Kabacan, North Cotabato, dan Cotabato City.
Situasi keamanan Filipina memang masih dihantui teror oleh kelompok pemberontak. Bahkan, dalam Global Terrorism Index 2015 yang dikeluarkan Institute for Economics and Peace, Filipina berada di peringkat kesebelas negara dengan indeks teror tertinggi di dunia. Peringkat pertama sampai kelima berturut-turut adalah Iraq, Afghanistan, Nigeria, Pakistan, dan Syria. Sebagai gambaran, sepanjang 2014 ada 378 insiden teror di Filipina yang merenggut 240 korban meninggal dunia dan 367 luka-luka.
Dalam konferensi pers di media room di kompleks PICC (19/11), Juru Bicara PNP Wilben Mayor menyatakan, pihaknya mengantisipasi semua potensi gangguan, sekecil apa pun itu. ’’Lebih baik overprepared (persiapan berlebihan, Red) daripada underprepared (kurang persiapan),’’ tuturnya menjawab pertanyaan mengenai pengamanan yang terlihat sangat mencolok tersebut.
