Cermati Empat Faktor Bullying

bandungekspres
0 Komentar

Sementara faktor keempat, perlu jadi catatan para pengajar. Sebab, rata-rata guru tidak mengetahui ada praktik bullying ada di dalam atau lingkungan sekolah. Kalaupun tahu, lanjut Rian, hukuman yang diberikan tidak membuat pelaku jera. Bahkan dalam sejumlah kasus, praktik bullying cenderung diabaikan. ’’Perhatian sekolah kurang. Hukuman yang jelas dan konsisten tidak ada. Sehingga, anak menganggap remeh,’’ kata dia.

Solusinya, jelas Rian, sekolah mesti menerapkan aturan dan hukuman yang jelas. Kemudian, disosialisasikan dengan baik kepada anak didik. Sebab, dampak praktik bullying ini sangat berbahaya bagi korban. Dampaknya dikelompokkan dalam dua kategori. Yakni, psikosomatis dan psikotraumatis.

Psikosomatis merupakan dampak gangguan psikologis yang disertai gejala fisik. Contohnya, saat ujian, peserta kerap merasa mulas, pusing, atau mual-mual. Hal ini terjadi akibat peserta ujian merasa tegang. Sedangkan psikotraumatis, dampak gangguan psikologis yang secara fisik tidak terlihat. ’’Misalnya korban bullying jadi murung terus, depresi, tidak percaya diri,’’ ucapnya.

Baca Juga:Akui PPDB Kurang SosialisasiMenangkap Peluang Usaha di Sekitar Rumah

Disinggung soal sanksi atau hukuman bagi pelaku bullying, menurut perempuan kelahiran 2 Februari 1982 ini, efeknya harus membuat jera. Dan tetap harus ada campur tangan orangtua. Kalau perlu, anak harus dibawa ke psikiater supaya dicari faktor penyebab utamanya apa. ’’Untuk korban juga sama. Hukuman itu jangan sekedar menghukum, tapi masalahnya tidak selesai. Tapi harus membuat jera,’’ tandas Rian.

Sebelumnya, seorang ibu melaporkan tindakan bullying yang menimpa anaknya ke Polsek Cibeunying Kaler. Ironisnya, tindakan ini terjadi di lingkungan sekolah, yakni SMAN 10 Bandung. Namun, kasus ini sudah memasuki tahap mediasi antara korban dan orangtua pelaku. (tam)

0 Komentar