Krisis Tiongkok Ganggu Perdagangan

Krisis Tiongkok Ganggu Perdagangan
ISTIMEWA
MENURUN: Analis Vibiz Research Vibiz Consulting memperkirakan pergerakan indeks benchmark di bursa saham Tiongkok cenderung mengalami penurunan. Indeks komposit Shanghai tersebut diperkirakan akan bergerak pada kisaran 2030 – 2070 poin.
0 Komentar

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi Tiongkok pada 2014 mencapai USD 800 juta dengan 501 jumlah proyek. Angka itu menduduki peringkat ke-8 dari keseluruhan Penanaman Modal Asing (PMA) dengan total nilai USD 28,53 miliar. Sedangkan neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok bertahun-tahun selalu defisit.

Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil menuturkan, penurunan bursa RRT memberikan pengaruh terhadap Indonesia. Meski tidak besar, dia menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi di RRT perlu diwaspadai. Sebab, salah satu negara tujuan ekspor terbesar Indonesia adalah RRT.

”Tapi, kita harap proses itu tidak lama. Karena itu, sebaiknya kita membidik pangsa pasar nontradisional,” terangnya kemarin.

Baca Juga:Warga Bandung Sudah Bisa Gunakan Aplikasi Panic ButtonBNN Tes 58 Sopir Angkot

Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Robert Pakpahan menerangkan, penurunan harga saham di Tiongkok mengakibatkan koreksi di imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). ”Seharusnya tidak terlalu pengaruh. Tapi, kita monitor terus,” papar Robert kemarin.

Dia menuturkan, koreksi imbal hasil sebesar 20-35 basis poin dari berbagai SBN yang diperdagangkan di domestic market. Padahal, sehari sebelumnya, nilai imbal hasil SBN tergolong rendah. (wir/ken/c22/oki/rie)

0 Komentar