Jangan sampai mata pencaharian mereka sebagai tukang ojek hilang akibat adanya kebijakan relokasi Pasar Curug Agung. Pasalnya, kebanyak pelanggan adalah masyarakat yang berbelanja ke Blok Koneung.
”Carikan solusi yang baik untuk kami, kamu punya anak istri untuk kita nafkahi. Kenapa kita tidak boleh melakukan usaha di sini,” tambahnya.
Bayu juga menyebut banyak oknum pengurus koperasi yang tadinya tidak memiliki kios di Pasar Curug Agung lama, namun saat ini justru merekalah yang memiliki. Bahkan menyewakan kios-kios di Pasar Curug Agung baru yang dibuat oleh pemerintah KBB.
Baca Juga:Dewan Akan Sidak ke PTLS17 Ribu Keluarga Tak dapat Raskin
Audiensi terkesan sangat alot. Para tukang ojeg tetap tidak mau pangkalannya digusur dan tetap ingin mangkal di daerah itu. Para tukang ojek ini dianggap sebagai biang datangnya para pembeli yang datang ke Blok Koneung Pasar Curug Agung lama, yang semestinya harus segera dikosongkan. Setelah melakukan audiensi sekitar satu jam, barulah para menemui kata sepakat.
”Kami sepakat dengan dan ikut membantu program pemerintah, akan tempat kami mencari nafkah tidak boleh hilang,” ucapnya.
Pangkalan Ojek di tengah-tengah Blok Koneung ini diisi 40 tukang ojek. Mereka bersedia dipindahkan ke gerbang kanan. Selain itu, para tukang ojek diharapkan bisa mengantarkan para pembeli ke pasar yang sudah disediakan oleh pemerintah.
Hal ini mendapatkan tanggapan positif dari Humas PT KAI Kuswardojo. Menurutnya, penertiban ini adalah program dari pemerintah KBB. Kebetulan, lokasinya dekat dengan PT KAI. Sehingga, PT KAI sendiri ikut membantu pemerintah.
”Para pedagang berada di tanah milik PT KAI. Para pedagang yang terkena gusuran ini sebenarnya menempati tempat tanpa izin,” tambahnya.
Dia berharap para pedagang bisa menempati lahan yang sudah disediakan oleh pemerintah. Sehingga, tidak mengganggu kegiatan umum. (mg5/fik)
