oleh

Kim Jong-un Tidak Datang

[tie_list type=”minus”]70 Delegasi dan 20 Kepala Negara Hadiri KAA[/tie_list]

 SUMUR BANDUNG – Korea Utara akhirnya akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-60. Setelah sebelumnya tidak pernah melakukan hubungan diplomasi dengan negara manapun. Wakil Mentri Luar Negri (Wamenlu) Republik Indonesia, Abdurrahman Mohammad Fachir, menjelaskan, sudah ada 70 delegasi dan 20 kepala negara, yang memastikan akan hadir dalam KAA ke-60 yang terselenggara di Kota Bandung pada 24 April 2015.

Baca Juga:  Terjadi Lonjakan Pengunjung di Kawasan Mall Kota Bandung, Ini Alasan Satpol PP Belum Melakukan Tindakan
KIM JOUNG-UN
Ilustrasi/istimewa

BATAL: Kepala Negara Korea Utara Kim Jong-un tidak akan hadir dalam KAA. Menurut Wamenlu Korea Utara hanya mengirimkan delegasi.

’’Korut jadi datang, delegasinya. Kim Jong-un tidak. Kita lihat nanti saja,’’ kata dia kepada wartawan, di sela acara Pembentukan Pusat Kajian Asia- Afrika dan Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri, di Museum KAA, Bandung, kemarin (14/4).

Jumlah tersebut merupakan angka pasti, karena dari negara- negara tersebut sudah melakukan konfirmasi kedatangannya ke Indonesia. Dia mengatakan, KAA merupakan langkah Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam kepentingan dunia. Umumnya membicarakan politik, sosial dan ekonomi menjadi bahasan bersama. ’’Sangat indah mengombinasikan antara kepentingan nasional kita, tapi pada saat yang sama kita juga memberikan kontribusi. Kontribusi yang kita berikan kepada ketertiban dunia juga akan kembali pada kepentingan nasional,’’ jelas dia.

Dalam rangkaian KAA, tiga deklarasi akan lahir yaitu Declaration on Reinvigorating the New Asian African Strategic Partnership. Yakni dokumen yang mengkaji New Asia-Africa Strategic Partnership (NAASP).

NAASP merupakan hasil dari peringatan KAA ke-50 yang diadakan pada 2005 lalu. Deklarasi terakhir ialah Declaration on Palestine, perwujudan dari konsistensi penuh para negara Asia Afrika dalam mendukung pendirian negara Palestina. ’’Saya pikir palestina akan menjadi fokus,’’ kata dia.

Selain itu, deklarasi ini juga menunjukkan dukungan dari para negara Asia-Afrika atas hak-hak dasar warga Palestina. ’’Intinya kembali pada Dasasila Bandung, jadikan sebagai pedoman untuk menyelesaikan persoalan,’’ ungkap dia.

Di bagian lain, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Republik Indonesia, melalui Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika (P3K2 Aspasaf) menyelenggarakan Forum Kajian Kebijakan Luar Negri (FKKLN), bekerjasama dengan Universitas Padjajaran (Unpad).

Kepala BPPK Luar Negri, Darmansjah Djumala menjelaskan, tema yang diambil merupakan, Revitalisasi Semangat Bandung dan Peran Diplomasi Indonesia dalam Memperkokoh Kemitraan Strategis Asia Afrika.

’’Kami mengaggap perlu menetapkan nilai-nilai dasasila Bandung, bekerjasama dengan kementrian dalam negri dan akan tetap mewarnai hubungan baik antar politik luar negri,’’ jelas dia, pada penandatanganan Nota Kesepahaman Pembentukan Kajian Asia-Afrika, di Museum KAA Bandung, kemarin. Diselengarakannya FKKLN ini, bertujuan untuk mendorong kembali semangat Bandung dan relevansinya dalam kondisi global terbaru. Pada peringatan KAA ke-50 pada 2005 telah disepakati, sebuah deklarasi penting untuk mewujudkan semangat Bandung dalam perkembangan peta hubungan antar negara Asia Afrika, yaitu Declaration in the new Asian African Strategic Partnership (NAASP), yang memiliki tiga pilar utama yaitu solidaritas politik, kerjasama ekonomi, dan hubungan sosial budaya.

’’Ketika kita merayakan sesuatu, kita bukan hanya merayakan. Kita merayakan nilai-nilai kita merayakan prinsip prinsip dalam politik dalam negri. Masih valid dan perlu dikembangkan kedepan karena situasi politik sekarang di eropa timur sedang terjadi kekacauan politik karena adanya tarikan dari politik dari kanan dan kiri. Dari Dasasila Bandung kita bisa menanamkan nilai-nilai independensi nonagresi,’’ jelas dia.

Sementara itu, Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad menjelaskan, konteks serta sudut pandang dari rumusan Dasasila Bandung, akan dipahami sesuai aspek kajian ilmu untuk meningkatkan suatu kerja sama antar negara melalui satu paham kajian yang diaplikasikan kedalam suatu program untuk masyarakat.

’’Kerjasamanya memang digulirkan untuk melakukan studi soal Asia-Afrika ini, dan tentunya kembali bukan hanya, kajian. Tapi dari kajian ini harus dihasilkan, lebih penting lagi peningkatan kapasitas,’’ terang dia. (fie/rie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Baca Juga