oleh

Pawang Juaranya

Andalan Ridwan Kamil Hadapi Siaga Satu Banjir

SUMUR BANDUNG – Puncak musin hujan diperkirakan terjadi Februari ini. Karena itu, ancaman banjir terus membayangi Kota Bandung. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menetapkan siaga satu banjir, terkait kejadian banjir yang melanda beberapa wilayah dan telah menimbulkan penderitaan di masyarakat.

DAPUR DARURAT: Aih, 42, membereskan perabotan rumahnya yang terendam banjir di Kampung Cingised, Arcamanik, Kota Bandung, kemari
DAPUR DARURAT: Aih, 42, membereskan perabotan rumahnya yang terendam banjir di Kampung Cingised, Arcamanik, Kota Bandung, kemari

”Dalam tujuh hari terakhir curah hujan yang tinggi menyebabkan tanggul sungai dibeberapa wikayah jebol. Masyarakat jadi korban. Saya akui memang kondisi tanggul sudah tidak representatif, ” kata Wali Kota Bandung Ridwan Kamil usai launching Raskin Gratis 2015, di Balai Kota Pemkot Bandung kemarin (9/2).

Menurut pria yang akrab disapa Emil ini, telah dilakukan upaya penanganan darurat. Bahkan, selain mengacu pada ramalan cuaca, pihanya juga mengandakan pawang hujan dalam mengantisipasi persoalan banjir. ”Kita terjunkan pawang hujan di setiap kecamatan, mudah-mudahan ini dapat meminamalisir persoalan banjir, ” kata Emil.

Menyoal tanggap darurat, Emil, memerintahkan Camat dan Lurah, mengambil tindakan cepat. Kecamatan bisa langsung berkoordinasikan dengan Dandim Bandung. ”Lurah melaporkan kondisi terkini. Camat berkoordinasi dengan Dandim. Kebijakan ini agar memudahkan penganggaran dalam menuntaskan persoalan infrastruktur, ” ujar dia.

Di Gedung DPRD Kota Bandung, Ketua Komisi C Entang Suryaman menyambut baik baik langkah wali kota dalam mengantsipasi persoalan banjir. Kendati demikian, dewan menginginkan penanganan tanggul menjadi prioritas di tahun ini.

”Kita mendorong Dinas Bina Marga dan Pengairan, mendahulukan persoalan tanggul. Bila memungkinkan pada APBD tahun ini, prioritas anggaran lebih besar dikucurkan untuk membenahi persoalan tanggul, ” ujar Entang.

*Lumpur Tebal Tutupi Lapangan Sekolah

Sementara itu, lumpur setebal 20 sentimeter masih menutup lapangan SMPN 42 Bandung, Jalan Manjahlega, Kelurahan Margasari Kecamatan Buahbatu, Kota Bandung, kemarin (9/2). Akibatnya, kegiatan belajar mengajar di sekolah terganggu.

Kepala SMPN 42 Bandung Agus Komar mengatakan, lumpur tersebut merupakan bekas banjir luapan Sungai Cidurian yang berada tepat di samping sekolah tersebut pada Jumat (6/2/). Saat itu, lanjut Agus, banjir setinggi betis kaki orang dewasa merendam sekolah tersebut.

’’Hari sabtu kebetulan memang tidak ada proses belajar jadi kita bersihkan sekolahan dibantu para siswa. Tapi, siang air datang lagi,’’ ujar Agus kepada wartawan saat ditemui di sekolah SMPN 42 Bandung.

Akibat banjir yang merendam lantai bawah sekolah tersebut, 20 ruangan kelas maupun guru menyisakan lumpur. Bahkan, lumpur pun setebal 20 sentimeter menutup lapangan SMPN 42. Agus mengatakan, dengan adanya lumpur yang hampir mengelilingi seluruh bagian sekolah, proses belajar mengajar pun terganggu. Pihaknya terpaksa meminta kepada siswa bagi yang ingin membantu membersihkan bisa ikut serta datang kesekolah.

’’Kadisdik juga bilang ini situasional saja. Jadi yang rumahnya dekat yang kebetulan tadi datang pakai seragam kita minta pulang dulu terus ganti baju dan ikut bantu membersihkan. Tapi, yang rumahnya jauh diinstruksikan belajar dirumah,’’ ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Bandung Elih Sudiapermana membenarkan, bahwa proses pembelajaran di SMPN 42 dan SMAN 21 Bandung masih belum efektif. Ia pun mengecek langsung ke dua sekolah tersebut pada saat banjir masih merendam.

’’Sebenarnya bukan diliburkan. Cuma melihat kondisi di lokasinya sendiri, kemarin dengan kepsek (kepala sekolah) sepakat fleksibel saja. Anak-anak biar masuk biar bisa lihat situasi sekolah, kalau mau ya ikut gotong royong,’’ ujar dia kepada wartawan melalui ponselnya.

Menurut Elih, melihat lumpur masih tebal di lapangan SMPN 42 Bandung, pihaknya mengkordinasikan kepada dinas terkait untuk membantu membersihkannya. Pihaknya pun berharap agar dengan adanya bantuan, lumpur segera bisa diatasi.

’’Saya sudah laporkan ke Pak Sekda (Sekertaris daerah), Pak Sekda sudah kerahkan DBMP (Dinas Bina Marga dan Pengairan) serta damkar. Halaman minta disemprot damkar, karena itu (lumpur) tebal sekali,’’ katanya.

Sementara itu Rosadi, 14, siswa SMPN 42 kaget melihat sekolahnya tertutupi lumpur. ’’Sekolahnya jadi kotor gini. Aku ngga tahu diliburin,’’ kata dia. (mg10/fie)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga