71

Kang Emil: Jangan Mudah Tergiur Gaji Tinggi

Kasus Human Trafficking Turun di Jabar

BENTENGI MASYARAKAT: Gubernur Jabar Ridwan Kamil (tengah), Ketua PKK Jabar Atalia Praratya (kanan) dan Kepala DP3AKB Poppy Shophia Bakur saat Japri di Gedung Sate.

Bandung – Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat mencatat, ada penurunan angka kasus human trafficking di Jawa Barat pada tahun 2018 lalu. Berdasarkan data perkembangan yang terlayani di Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jabar, tercatat berkurang lebih dari 50 persen disandingkan tahun 2017.

Kepala DP3AKB Poppy Sophia Bakur mengatakan, sebanyak 57 kasus human trafficking terjadi di Jawa Barat pada 2017 lalu. ”Pada 2018 yang terlayani ada 23 kasus. Hampir setengahnya ada penurunan,” ujar Poppy pada acara Jabar Punya Informasi (Japri) dengan tema Human Trafficking di Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin (10/1).

Menurut Poppy, penanganan human trafficking perlu tenaga ekstra. Beberapa kali perlu koordinasi dengan polisi. ”Pada saat pengalaman bawa korban di ujung pulau Bali di Buleleng, di kendaraan kita sport jantung meski dengan tim dari Polda. Sebab, kami khawatir ada mafia yang tidak rela korban dibawa,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak (TP) Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jabar Atalia Praratya berharap, setiap pihak bisa lebih bersinergi untuk menumpas kasus human trafficking ini. Dia mengungkapkan, sejauh ini data dari kasus dari kabupaten kota pun belum senada dengan yang tercatat di provinsi.

”Jadi sebenarnya begini, selama ini kalau yang selama ini saya pantau ini data dari provinsi ini tidak terlalu me-link dengan apa yang terjadi di kota/kabupaten,” ujar Atalia.

Istri Gubernur Jabar Ridwan Kamil ini mengaku, sejauh ini memang belum terjadi kolaborasi yang utuh dari setiap stakeholder maupun organisasi perlindungan anak dan perempuan. Sehingga ketika terjadi kasus, para korban merasa bingung harus melaporkan kepada siapa.

”Insya allah dalam waktu dekat kita akan duduk bersama-sama termasuk dengan para dewan pakar yang mereka peduli dengan perlindungan anak,” katanya.

Atalia menilai, usia remaja sangat rawan menjadi korban human trafficking ini, mengingat perkembangan teknologi yang semakin mudah diakses melalui ponsel dan gawai lainnya. Terlebih, Pemprov Jabar pun mencanangkan program, seperti Desa Digital yang dikhawatirkan bisa mendorong terjadinya kasus.

Meski begitu, Atalia menegaskan, saat ini pihaknya pun memiliki program untuk membentengi anak dan remaja dari potensi menjadi korban. Salah satunya lewat Setangkai atau Sekolah Tanpa Kendali Gawai. Jadi di sekolah pun akan memberikan pemahaman kepada anak-anak dengan mengumpulkan gawai-gawai pada saat masuk tempat belajar.

”Saya khawatir dengan nanti masuknya online atau gawai gawai yang masuk di pedesaan itu akan mendorong, tapi saya kira selama ketahanan keluarga itu muncul, bahwa setiap anak diberikan bekal yang baik mereka akan ada filter sendiri supaya pada akhirnya mereka akan memilah,” paparnya.

Namun, lanjut dia, bagaimanapun seorang guru bahkan orang tua tidak dapat selama 24 jam memantau anak-anaknya. ”Meskipun kita berusaha bagaimana mereka dibatasi untuk memegang gawai, tapi kan tidak bisa 24 jam dalam pantauan orang tuanya maupun gurunya,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengimbau remaja putri tak gampang tergiur tawaran gaji tinggi dan mengharuskan total kerja di luar kota. Sebab, itu umumnya modus kejahatan human trafficking dalam menjalankan aksinya.

”Kalau ada orang-orang yang iming-imingi pekerjaan dengan gaji fantastis dan di luar wilayahnya harus curiga, kedua harus cek,” ujar Ridwan Kamil.

Menurut dia, perkara ekonomi selalu menjadi ‘iming-iming’ pihak tak bertanggung jawab yang ditawarkan kepada para korban. Setelah itu para korban dipekerjakan di tempat hiburan malam. ”Misalnya menjadi pemandu lagu di tempat karoke, secara tidak sadar mereka juga dipergunakan menjajakan seks,” katanya.

Karena itu, Emil -sapaan Ridwan Kamil- akan fokus mengupayakan Jabar juara di setiap dimensi. Dari mulai urusan keluarga  peribadatan, ekonomi, pendidikan. Berbagai program yang telah digagas akan menjadi investasi Jabar ke depan.

Dia memastikan, ekonomi di Jabar akan semakin kuat, seiring diluncurkannya beberapa program. Misalnya Satu Perusahaan Satu Desa, Kredit Mesra hingga Desa Digital agar generasi milenial dapat dengan mudah melakukan aktivitas ekonomi. ”Diharapkan, tidak ada lagi ibu ibu jadi TKW, tidak ada lagi anak-anak yang diimingin-imingi,” harap dia.

Untuk membentengi dari kasus human trafficking ini, peran keluarga pun harus benar-benar kuat dan harmonis. Karena itu, pihaknya telah menggagas program Sekolah Perempuan Mencapai Impian dan Cita-cita (Sekoper Cinta). ”Kita mulai yang di dalamnya kekuatan ketahanan keluarga. Jadi batin ada program. Harusnya anak anak Jabar tidak lagi kebingungan untuk mencari kesibukan dan penghasilan,” jelas Emil.

Bilamana menemukan kejanggalan atau adanya potensi human traficking, warga juga bisa melaporkannya via Jabar Quick Response. Hal tersebut sebagai upaya Emil memberikan perlindungan dan memajukan masyarakat di Jabar. (rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.