Jokowi-Maruf Kalah Tipis Tatar Sunda

BANDUNG – Hasil Quick count lembaga survey Charta Politika calon presiden (capres) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) di Jawa Barat kalah tipis dengan pasangan capres 02 Prabowo Subianto dengan perolehan 55,42 persen. Sedangkan pasangan 01 mendapatkan 44,59 persen.

Berdasarkan Data Charta Politika, hasil tersebut saat posisi suara masuk 89,35 persen. Namun secara keseluruhan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan perolehan 54,41 persen. Sementara Prabowo-Sandi meraup suara 45,59 persen.

Patahana di wilayah Jawa Timur, Jokowi-Ma’ruf Amin juga unggul 66,3 persen. Sementara Prabowo-Sandi hanya mampu meraup suara 33,7 persen. Selanjutnya di Jawa Tengah, paslon nomor urut 01 mendapatkan 76,35 persen dan pasangan nomor urut 02 hanya mendapatkan suara 23,65 persen.

Sementara itu, hasil hitung cepat LSI Denny JA juga mem­berikan gambaran serupa perolehan suara kedua paslon di Jabar. Di wilayah Jabar, Jokowi-Ma’ruf hanya menda­patkan 40,37 persen suara, kalah cukup banyak dari Prabowo-Sandi yang meraup 59,63 persen suara.

Adapun lembaga survei Pol­tracking Indonesia menunjuk­kan hasil quick count secara nasional. Ketika 81,35 persen suara masuk, pasangan Joko­wi-Ma’ruf memperoleh 54,87 persen suara, sedangkan Prabowo-Sandiaga mempe­roleh 45,13 persen suara.

Sementara hasil Survei Uni­versitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI) merilis hasil survei Pemilihan Presi­den (Pilpres) 2019 berbasis exit poll dengan hasil akhir Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowi-Sandi) menang 66,4 persen.

Rektor UKRI Boyke Setiawan mengatakan, mengacu pada hasil survei internal yang dila­kukan tim survei exit poll UKRI, pihaknya optimistis pasangan capres-cawapres nomor urut 02 tersebut memenangi Pilpres 2019.

Survei berbasis exit poll tersebut dilaksanakan pada Rabu (17/4/2019) dengan melibatkan 2.200 responden yang tersebar di 700 tempat pemungutan suara (TPS) di 34 provin­si di Indonesia.

“Hasilnya, pasangan Prabo­wo-Sandi meraih 66,4 persen suara, sementara pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin 33,6 persen,” sebut Boyke.

Menurut Boyke, pihaknya sengaja menggelar survei berbasis exit poll karena di­nilai lebih cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan hasil hitung cepat (quick count) yang dilakukan sejumlah lem­baga survei.

Dia meyakinkan, secara akademis, hasil perhitungan exit poll bisa dipertanggung­jawabkan karena mengguna­kan teknik statistik yang sama seperti halnya survei pada umumnya. Terlebih, kata dia, survei exit poll UKRI dilakukan oleh para akade­misi UKRI

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan