Pendidikan Karakter Menguatkan Pondasi Peserta Didik

Sekolah Jabar Juara sebagai Solusi Pendidikan Masa Kini (6)

335

UPAYA mendorong Angka Partisipasi Kasar (APK) tidak selalu mulus. Sebab, Dinas Pendidikan Jawa Barat harus ”berperang” melawan rendahnya budaya disiplin pelajar Indonesia yang masih buruk.

***

Banyak faktor yang mendorong siswa sulit konsentrasi belajar. Gaya hidup serta ketergantungan pada gadget membuat mereka enggan belajar lebih intens.

ads

Kendala yang ada, juga makin berlipat ketika menghinggapi remaja putus sekolah. Sebab, beberapa di antara mereka lebih cenderung memilih bekerja ketimbang melanjutkan sekolah.

Besarnya angka tersebut dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, alasan ekonomi karena harus membantu orangtua menjadi paling tinggi. Faktor kedua, dipicu minimnya infrastruktur.

Faktor bekerja dan membantu orangtua dinilai lebih baik dari pada menggelandang. Sebab, mereka masih memiliki kesempatan yang luas untuk melanjutkan pendidikan sekolah menengah terbuka yang dikini di-update menjadi Sekolah Jabar Juara.

Untuk diketahui, angka kelulusan Sekolah Dasar hingga saat ini sangat besar. Nyatanya, ketika siswa itu lulus, infrastruktur tidak mendukung. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Jawa Barat 2015/2016, jumlah sekolah SD negeri mencapai 18.266 unit. Jumlah itu ditambah dengan swasta dengan 1.649 unit.

Di bagian lain, berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Sekolah Dasar (SD) Provinsi Jawa Barat 2016/2017 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diketahui jumlah SD 19.793 dengan siswa baru 745.164 dan 4.516.574 yang bersekolah. Sedangkan jumlah KS dan guru diketahui hanya 213.794 dengan total lulusan SD mencapai 799.818 per tahun.

Sedangkan, jumlah gedung SMP yang dilansir Dinas Pendidikan Jawa Barat mencapai 1.954 unit SMP Negeri dan 2.913 SMP Swasta. Sedangkan, Data Pokok Pendidikan (Dapodik) Sekolah Menengah Pertama Jawa Barat 2016/2017 versi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diketahui jumlah sekolah mencapai 4.878 unit dengan 607.099 siswa baru tiap tahunnya. Dengan data yang sama, jumlah siswa tercatat 1.801.954 dengan kelulusan mencapai 585.506 pertahunnya.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PK-PLK) Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat DR Dadang Rachman Munandar, M.Pd mengatakan, data peserta didik belum begitu menggembirakan. Sebab, angka peserta dari setiap daerah belum tersaring dengan baik.

Bahkan, dalam edisi sebelumnya, Dadang mengambil sampel dari 29 orang peserta didik sekolah menengah terbuka di SMAN 8 dan SMKN 3 Bandung.

”Yang sulit adalah membangun mental mereka untuk mau belajar. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan rutinitas yang menghasilkan uang,” urai Dadang.

Dengan kata lain, cukup sulit untuk memastikan angka tersebut akan tetap utuh atau tidak. Terlebih, mereka tidak perlu setiap hari belajar seperti halnya pelajar regular.

Menurut Dadang, pembelajar di Sekolah Jabar Juara mengandalkan teknologi. Yaitu berbasis aplikasi.

Pada dasarnya, kata Dadang, Sekolah Jabar Juara adalah inovasi layanan pendidikan menengah di Jawa Barat. Sekolah Jabar Juara memberikan peluang luas kepada seluruh masyarakat dalam mengakses layanan pendidikan. Tanpa terhalang faktor ekonomi, geografis, sosial, budaya atau faktor lain. Melalui layanan pendidikan ramah, murah, mudah, bermutu, dan berdaya saing. Relevan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat.

”Sekolah Jabar Juara  dapat diwujudkan melalui kolaborasi antartingkatan pemerintahan, antarwilayah, dan antarpelaku pembangunan untuk memanfaatkan potensi dan peluang serta menjawab permasalahan dan tantangan pembangunan,” paparnya.

Dadang menjabarkan, indikator Sekolah Jabar Juara adalah sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, terpencil, terbelakang, masyarakat adat, bermasalah dengan hukum, kesulitan ekonomi, anak dipekerjakan, di daerah konflik, terdampak bencana alam. Termasuk anak yang mempunyai keterbatasan waktu karena kebutuhan (atlet).

”Nah, ke depan, data utama yang dijadikan acuan adalah data pokok pendidikan (Dapodik). Data tersebut kemudian dikroscek oleh pihak kecamatan untuk dicocokan. Dengan begitu, APK tersebut tidak hanya naik secara jumlah tapi bisa dipertanggungjawabkan secara data,” tandasnya.

Yang tidak kalah penting, kata dia, gencar sosialisasi. Kepesertaan di Sekolah Jabar Juara tidak mungkin hanya sekali gertak. Sebab, keinginan dari peserta untuk ikut sekolah kadang tidak sejalan dengan keinginan dari orangtua atau pun pihak perusahaan di mana siswa itu bekerja.

”Penting untuk pihak swasta untuk dilibatkan. Sebab, mereka harus mengizinkan karyawan mereka untuk belajar pada waktu waktu tertentu. Dan ini perlu banyak disosialisasikan,” tuturnya.

Dadang memerinci, ada proses orientasi pembelajaran tahap awal yang akan diperkenalkan kepada para calon peserta diri. Setelah itu dilewati, maka akan perkuat dengan proses penguatan pendidikan karakter. ”Dengan begitu akan muncul komitmen belajar yang tinggi. Dan diharapkan peserta didik ini akan lebih mandiri,” ucapnya.

Dadang tahu persis bahwa sosialisasi kepada peserta didik Sekolah Jabar Juara tidak bisa instan. Makanya, untuk tetap menarik mereka belajar dan tetap bekerja, pola pembelajaran pun diarahkan kepada pendidikan karakter dan kewirausahan.

Lantas apa yang akan dihasilkan dari Sekolah Jabar Juara? Hal pertama, kata Dadang, mengacu pada peningkatan angka partisipasi kasar (APK). Dengan banyaknya siswa putus sekolah yang kembali mengenyam pendidikan, maka APK pun sudah pasti naik.

”Dampak lainnya, pemetaan kebutuhan infrastruktur pendidikan. Sebab, banyak anak tidak sekolah karena keterbatasan infrastruktur. Keterbatasan infrastruktur ini yang dipermudah dengan Sekolah Jabar Juara,” ujarnya.

Selanjutnya, peningkatan jumlah lulusan sekolah menengah yang memiliki kompetensi produktif. Dadang menegaskan, peningkatan serapan angkatan kerja lulusan sekolah menengah dalam dunia kerja dan dunia industri sudah besar. Namun, dengan adanya Sekolah Jabar Juara ini, lulusan akan pondasi yang lebih kuat dan terukur karena tidak meninggalkan pendidikan formal. ”Salah satu targetnya juga mengarah pada peningkatan jumlah wirausaha muda di usia sekolah menengah,” tandasnya. (rie)

 

~ads~

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.