Guru Terjangkit Virus Intoleransi

112

APABILA kamu diberi pen­ghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesung­guhnya Allah memperhitung­ankan segala sesuatu”, (AN-NISSA: 86).

Allah SWT mewajibkan ham­banya untuk saling menghor­mati satu sama lain, dan dengan adanya penghorma­tan antara satu sama lain, maka kedamaian pun tidak akan pernah menjadi utopis, kedamaian akan tercipta dengan sendirinya. Negara mana pun itu bisa mencipta­kan kedamaian yang dibuat oleh warga negaranya yang saling menghormati satu sama lain, begitu juga dengan negara yang menganut plu­ralisme. Dengan menerapkan pluralisme, tentunya sebuah tantangan yang besar bagi warga negaranya untuk saling menghormati satu sama lain.

Begitu pun dengan Indone­sia, upaya untuk menghor­mati satu sama lain merupa­kan suatu hal yang cukup sulit, karena sangat tidak jarang jika di Indonesia sendiri sering mengalami culture conflict (konflik budaya) yang sangat kompleks. Isu mengenai SARA juga sering menjadi perbincangan publik pada beberapa tahun belakangan ini. Bahkan hal ini juga di­buat semakin pelik, jika be­berapa oknum yang selalu menyebarkan kebencian hadir di sekitar kita. Oknum tersebut selalu mengatasna­makan sebagai seorang aga­mawan, cendikiawan, bahkan oknum politisi yang sering­kali membuat gaduh. Hate Speech yang seringkali men­jadi konsumsi publik pada setiap harinya, justru pada saat ini semakin menyebar dengan pesat, sehingga se­makin sulit untuk menemukan dari mana sumbernya, dan siapa oknum yang menyebar­kan kebencian tersebut.

Ironisnya kini virus tersebut juga terus merambah ke dalam dunia pendidikan kita. Buk­tinya saja pada saat kemarin, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Sya­rif Hidayatullah menunjukan data sebanyak 57 persen guru memiliki opini intole­ransinya terhadap pemeluk agama lain. Sedangkan 37,77 persen mempunyai keinginan untuk melakukan perbuatan intoleran. Data tersebut tidak bisa dianggap sebagai hal yang tidak penting, karena hal ini sudah menyangkut dunia pendidikan kita, jika dunia pendidikan kita dipenuhi dengan guru yang intoleran­si, maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa masa depan Indonesia pun akan selalu diwarnai dengan virus intoleransi yang sema­kin mendarah daging. Maka dari itu, sudah seharusnya semua pihak memperhatikan sebab mengapa semua itu terjadi, serta harus menemu­kan solusi terbaiknya, agar tidak ada lagi virus yang ber­nama intoleransi.

Memperhatikan Hermeneu­tika para Guru

Secara etimologis, herme­neutika berasal dari kata Yunani: hermeneuin, artinya menafsirkan, kata bendanya hermeneia berarti tafsiran. Dalam bahasa Yunani, akar kata ini dipakai dalam tiga makna: mengatakan, menje­laskan, dan menerjemahkan. Tiga makna ini, dalam ba­hasa Inggris, diekspresikan dengan kata: to interpret. Intinya, hermeneutika men­coba menginterpretasikan teks tertulis maupun “teks” sosial yang ada pada suatu kelompok masyarakat (Dani Vardiansyah, 2008: 60).

Pada saat ini, semua orang pasti mempunyai penafsiran yang berbeda mengenai apa pun itu, bahkan pancasila pun bisa saja ditafsirkan berbeda pula. Memang seiring berja­lannya waktu, penafsiran tersebut akan menciptakan sebuah obsesi yang di mana obsesi itu datang ketika de­mokrasi di negeri kita sedang mengalami kelesuan yang sangat memprihatinkan.

Terlebih lagi, beberapa ob­sesi tersebut terkadang harus bertolak belakang dengan pancasila, misalnya beberapa kelompok masyarakat mem­punyai obsesi ingin membangun negara islam di Indonesia, ada juga yang mempu­nyai obsesi ingin membangkitkan kembali komunis di In­donesia, dan obsesi-obsesi lainnya yang tidak diketahui pemerintah, sehingga bisa menjadi lawan yang sangat sulit untuk dikalahkan oleh pancasila. Begitu pun dengan para guru yang selalu mem­punyai opini untuk tidak menghormati agama lain, hal itu juga termasuk ke dalam obsesi yang betolak belakang dengan Pancasila dan plura­lisme yang dianut oleh Indo­nesia. Maka dari itu, institusi pendidikan jangan hanya berfokus terhadap kurikulum dan pencapaian prestasi yang diperoleh siswa maupun para gurunya, tetapi juga ha­rus memerhatikan bagai­mana hermeneutika para guru terhadap suatu kelompok masyarakat yang menganut agama lain dan juga harus memperhatikan obsesi para guru yang mempunyai po­tensi untuk bertolak belakang dengan pancasila.

Mencari Obat Mujarab

Entah mengapa tiba-tiba isu intoleransi kembali lagi ber­kembang di saat Indonesia sudah mau memasuki tahun politik yang sangat menegang­kan ini. Virus intoleransi ini harus segera ditemukan obat mujarabnya dengan sebaik mungkin, karena jika tidak ditemukan, maka virus ter­sebut akan terus menyebar dengan cepat. Oleh karena itu para guru harus mempu­nyai etika komunikasi yang baik. Menurut Joseph A. De­vito, etika komunikasi landa­sannya adalah gagasan kebe­basan memilih (notion of choice) serta asumsi bahwa setiap orang mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Komunikasi dikatakan etis bila menjamin kebebasan memilih seseorang dengan memberikan kepada orang tersebut dasar pemilihan yang akurat. Komunikasi dikatakan tidak etis bila mengganggu kebebasan memilih seseorang dengan menghalangi orang tersebut untuk mendapatkan informasi yang relevan dalam menentukan pilihan (Joeph A. Devito, 2011: 29).

Para guru harus memper­hatikan bahwa di dalam ke­hidupan perlu adanya kebe­basan memilih. Karena pada hakikatnya manusia dilahir­kan dengan mempunyai tak­dir yang pasti berbeda, tidak mungkin memaksakan semua orang untuk memeluk agama yang sama. Semua manusia juga mempunyai kebebasan untuk memeluk agama apa pun itu, dan yang paling ter­penting perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk menganggap bahwa agama lain adalah agama yang salah. Selama ibadah atau kegiatan keagamaan mereka tidak mengganggu, lalu untuk apa menganggap bahwa orang yang menganut agama lain adalah orang yang salah? Dan mengapa para guru harus menyebarkan virus intole­ransi? Oleh sebab itu, marilah kita menciptakan kedamaian di negeri yang sedang seme­rawut ini. Jika guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, maka guru juga harus bisa menjadi pahlawan kedamai­an demi masa depan Indo­nesia yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

  • Devito, Joseph A. 2011. Komunikasi Antar Manusia. Tangerang Selatan: Karisma Publishing Group.
  • Vardiansyah, Dani. 2008. Filsafat Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Indeks.

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Serang Raya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Prodi Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Public Relations, Semester 7.

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.