Tiga Meninggal Terkena DBD

Musim Hujan Masyarakat Diminta Waspada

11
MEMAKAN KORBAN: Salah satu pasien Demam Berdarah Dengue yang menjalani perawatan di salah satu rumah sakit. Di KBB pada 2016, sudah tiga orang meninggal dunia akibat terserang DBD.

jabarekspres.com, NGAMPRAH – Memasuki musim pancaroba di tahun 2017, masyarakat diminta lebih waspada terhadap kasus demam berdarah dengue (DBD). Sepanjang 2016, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat mencatat, telah terjadi sekitar 1.355 kasus demam berdarah dengue (DBD). Bahkan, tercatat jumlah meninggal akibat hal tersebut mencapai 3 orang di 2016 lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 lalu yang hanya 1 orang. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan KBB, Pupu Sari Rohayati kepada wartawan di Ngamprah, belum lama ini.

Pupu menyebutkan, pada Januari 2016 terjadi 198 kasus, disusul Febuari 245 kasus dan di bulan Maret sebanyak 249 kasus. Diungkapkan Pupu, kasus DBD ini perlu diwaspadai oleh masyarakat terutama saat datang terjadinya musim hujan. “Termasuk di musim pancaroba tahun ini, kami selalu mengimbau masyarakat agar lebih hati-hati dengan serangan DBD ini. Karena bisa sampai menimbulkan korban jiwa,” terangnya.

Dikatakan Pupu, penyakit DBD yang menyebabkan tiga warga meninggal dunia pada tahun lalu karena terlambat dibawa ke rumah sakit. Sehingga ketika terserang DBD, harus langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan medis. “Kalau terlambat apalagi memang tidak mendapatkan perawatan, khawatirnya menimbulkan korban jiwa,” terangnya.

Menurutnya, kasus DBD merata di beberapa kecamatan. Namun, ada tiga kecamatan yang kasusnya cukup tinggi dan termasuk daerah endemis yakni Padalarang, Ngamprah dan Batujajar. “Daerah endemis DBD ini kebanyakan cukup padat penduduknya. Selain itu mobilitas warganya cukup tinggi dibandingkan dengan kecamatan lainnya. Makanya, kita juga sering melakukan antisipasi dengan melakukan beberapa hal ke lokasi rawan DBD,” paparnya.

Pupu menambahkan, pada musim pancaroba dengan cuaca tidak menentu panas dingin dan disertai hujan, hal tersebut dapat membuat daya tahan tubuh menurun. Dampaknya, banyak berbagai penyakit menular, terutama penyakit DBD, karena banyaknya genangan-genangan air menjadi tempat hidupnya jentik-jentik nyamuk. “Kalau dihadapkan situasi cuaca yang tidak menentu, jadi masyarakat harus mengantisipasi penyebaran dan berkembangbiaknya virus DBD yang bersumber dari jentik-jentik nyamuk ini,” katanya.

Untuk itu, dia mengimbau agar masyarakat dapat meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan, menjaga lingkungan dengan menggalakan program 3 M, seperti menguras tempat-tempat genangan air, mengubur barang-barang bekas dan menutup tempat penampungan air. “Supaya nyamuk juga tidak berkembangbiak yang dapat menyerang masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh Pupu menjelaskan, untuk mengendalikan kasus DBD, Dinkes menggiatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di tengah masyarakat. Langkah tersebut dinilai lebih efektif dalam mencegah penyebaran penyakit DBD. “Kami juga siapkan kader Jumantik (juru pemantau jentik) di desa. Dengan cara ini akan menekan kasus DBD terus menurun,” pungkasnya. (drx/bun)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here