Perempuan Pintar Harga Mati

Atalia Lebih Suka Istilah Keadilan daripada Kesetaraan Gender

Untuk menyeimbangi suaminya, Atalia selalu berusaha menyempatkan diri membaca. Di sela-sela kesibukannya, dia membaca buku.

”Jadwal saya sama padat dengan Kang Emil. Saya sering diundang ke berbagai acara. Apalagi jika saya harus menjadi narasumber seminar atau diskusi, pasti harus mengusasi materi,” ujar Atalia belum lama ini.

Atalia mengatakan, di Hari Kartini ini, menjadi momentum untuk meningkatkan literasi di masyarakat. ”Banyak perguruan tinggi. Tinggal kita mau pilih mana yang sesuai dengan keinginannya,” ujar dia.

Dia juga mengatakan, kodrat perempuan sebagai ibu rumah tangga. Jika dirinya tidak memiliki wawasan luas, bagimana mau mendidik anak-anaknya.

Menurut dia, anak zaman sekarang semakin cerdas oleh bantuan perkembangan teknologi. Dirinya sampai kaget saat mengetahui anaknya Emmiril mewakili siswa di Kota Bandung untuk presentasi program smart city di Singapura.

”Anak saya mah sudah pintar berbicara bahasa Inggris. Ari ibuna mah teu bisa,” ujar dia.

Lebih lanjut Atalia mengatakan, perempuan harus bisa melihat peluang dan tantangan. Perempuan hebat yaitu perempuan yang memiliki wawasan luas.

”Sekarang yang bergerak banyak dari kaum perempuan. Maka, kita tidak boleh mengosongkan kepala kita. Kita harus rajin membaca,” ujar mahasiswi S2 Universitas Pasundan ini.

Dia mengatakan, sebagai penggerak perempuan memang dituntut pintar. Namun demikian, dirinya berpesan agar perempuan selalu mengingat hakikatnya. Jangan sampai, karena kepintarannya, perempuan jadi kebablasan. (fik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here