Obat Farmasi, Banyak Disalahgunakan

41
KONSENTRASI: Beberapa apoteker sedang melakukan entri data dalam pelatihan yang di gelar Dinkes belum lama ini.

jabarekspres.co.id, CIMAHI – Obat-Obatan farmasi yang dijual di apotek ternyata banyak disalah gunakan dikalangan remaja di kota Cimahi.

Kepala seksi (Kasi) Kefarmasian dan Alkes Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Elly Herlia mengungkapkan beredarnya obat-obatan Farmasi  akan melakukan pengawasan secara rutin berkeliling  ke setiap apotik, Klinik.

Pengecekan dan pemeriksaan akan dilakukan dengan melihat faktur pembelian obat mereka dan termasuk mengawasi peredaran obatnya apakah dengan prosedur yang benar atau tidak.

“Kami lihat faktur pembelian obatnya kemana, kemudian obat-obatan yang termasuk narkotika dan psikotropika juga kami pantau, bisanya jenis obat tersebut disimpan dilemari khusus,”jelas Elly ketika ditemui kemarin (7/4)

Dengan begitu, pengawasan akan lebih efektif. Bahkan,  pengecekan terhadap kartu stok obat dan distribusi juga akan dilakukan

“ Kan jika mengeluarkan obat tersebut harus ada resep,” ucap Elly

Dia menuturkan sebenarnya jenis obat-obatan yang masuk golongan narkotika dan psikotopika di Fasilitas Kesehatan (Faskes) Kota Cimahi, sudah tertib administrasinya.

Sehingga untuk peredaran yang terjadi sekarang ini, pihaknya mengaku tidak mengetahui dari mana mereka mendapatkannya.

“Jika memang ada ditemukan ada apotik menjual obat tersebut sebut secara bebas, kami berharap masyarakat mau melaporkan, sehingga kami bisa langsung turun kelapangan dan langsung menyampaikan kepada mereka peraturan terbaru tentang peredaran obat-obatan yang masuk golongan nafza,” sebutnya.

Menurutnya, memang masih banyak obat-obatan yang dijual diapotik dan disalahgunakan penggunaannya. Adapun obat-obatan tersebut seperti Xanax, Tramadol, Trihexyphenidil dan Heximer yang sebenarnya untuk mendapatkan obat tersebut harus menggunakan resep dokter dan dilengkapi dengan berkas riwayat penderita penyakit pengguna obat tersebut.

“Kalau dulu yang sering disalahgunakan penggunaanya adalah Dextro obat tersebut sering digunakan para remaja. Namun obat tersebut peredarannya sudah ditarik dan dimusnahkan sejak 2015 yang lalu,” katanya.

Elly menjelaskan, Xanax, Tramadol, Trihexyphenidil dan Heximer adalah jenis obat yang susah untuk mendapatkannya. Sebab untuk mendapatkan obat-obatan tersebut dari distributor, apotik harus mempunyai Surat Izin Praktek Apotik (SIPA) dan Surat Tanda Registrasi Apotik (STRA) yang dikeluarkan oleh Komite Farmasi Nasional (KFN).

“kemudian pengeluarannya juga harus ada resep dokter, maka jika masyarakat mendapatkan itu mungkin dari pasaran yang ilegal. Jangankan masyarakat, klinik dan rumah sakit saja susah sekali untuk mendapatkan obat-obatan tersebut,” jelasnya.

Pihaknya juga mengaku melakukan pengawasan juga kepada toko-toko obat lain, sebab toko -toko tersebut harus ada surat izin.

“Untuk toko obat biasa pun kami melakukan pengawasan, dan mereka juga harus berizin. Mereka hanya bisa menjual obat biasa tidak diperbolehkan menjual obat keras,” akunya.

Sementara itu, Seketaris Dinas Kesehatan, Fitriana Manan menambahkan, Tramadol sebenarnya dapat digunakan untuk obat penghilang rasa nyeri setelah dioprasi.

Sedangkan Xanax obat ini merupakan obat anti cemas untuk pasien-pasien sakit jiwa dan yang bisa mengeluarkan resepnya hanya dokter kejiwaan.

“Jadi dengan penggunaan, indikasi dan dosis yang tepat atas resep dokter obat tersebut masih bisa digunakan dan masih berguna. Sehingga jenis obat itu belum bisa untuk dihilangkan,” tandas dia (bun/yan)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here