Ketika Helm, Sandal, dan Botol Mengantre untuk Dapatkan E-KTP

Berangkat Pukul 04.00, Antrean Sudah Mengular

110
RADAR CIREBON
TERTIB ANTRE: Warga Kabupaten Cirebon menggunakan berbagai alat untuk dijadikan alat antre di Disdukcapil Kabupaten Cirebon, Rabu (20/12). Antrean panjang terjadi karena membludaknya e-KTP.

Para pengantre e-KTP di Cirebon butuh ”perwakilan” karena harus datang sejak dini hari dan antrean demikian panjang. Ada yang sudah datang beberapa jam sebelum subuh.

SAMSUL HUDA-ANDRI WIGUNA, Cirebon

DI depan kantor itu, ”mereka” mengantre dengan rapi. Tak saling serobot. Tapi, juga tak saling bicara.

Hari belum pagi betul. Di sekitar Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil) Kabupaten Cirebon bahkan masih tampak gelap. Tapi, mereka yang mengantre itu juga tak terlihat mengantuk.

Maklum, yang berbaris dalam diam itu bukan orang. Juga bukan orang-orangan. Melainkan ”perwakilannya”: helm, sandal, botol air mineral, bahkan batu.

”(Memakai perwakilan benda) ini memang kesepakatan di antara kami. Biar nggak lelah ngantre,” kata Anto, salah seorang warga yang diwakili botol air mineral dalam antrean, kepada Radar Cirebon (Jabar Ekspres Group).

Inovasi tersebut harus dilakukan karena antrean pencetakan e-KTP Rabu (20/12) itu demikian panjang. Kalau tak diwakilkan barang, bisa-bisa ambulans harus datang. Karena banyak yang pingsan.

Barangnya bisa macam-macam, terserah yang mengantre. Tapi, mayoritas adalah helm. Maklum, kebanyakan para pengantre datang dengan menggunakan motor.

Anto yang datang sebelum subuh saja dapat nomor antrean 19. Sebagian bahkan mengaku sudah datang ke kantor di Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, tersebut pukul 02.00. Jadi, saat para pegawai kantor tersebut masih lelap di balik selimut, para pengantre sudah harus berteman dengan nyamuk dan hawa dingin.

Mahmud termasuk yang datang paling awal. Sebab, rumahnya jauh, di Losari, perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah. ”Saya datang pukul 03.00. Kalau sampai telat, saya bisa nggak dapat nomor (antrean, Red),” kata pria 31 tahun itu kepada Radar Cirebon.

Ketika memasuki pukul 06.00, ada pergantian sif. Helm, sandal, botol dkk minggir, diganti barisan orang. Sebab, di sekitaran jam tersebut, nomor antrean dibagikan petugas. Sesuai urutan helm, sandal, botol dkk yang tadi sudah antre.

Perjuangan melelahkan (dan membuat ngantuk) itu harus dijalani karena pencetakan e-KTP tak boleh diwakilkan. Sebab, menggunakan sidik jari. Jadi, harus orangnya sendiri.

Menurut Kepala Dispendukcapil Kabupaten Cirebon Mohammad Syafrudin, antrean berupa helm, sandal, dan botol dkk itu murni inisiatif para pengantre. Pihaknya tak pernah menginstruksikan. ”Mungkin karena mereka ingin lebih tertib dan tidak mau capek berdiri. Sehingga pola antrean mereka seperti itu,” katanya.

Persaingan mendapatkan nomor antrean jadi lebih sulit lagi karena per hari dispendukcapil hanya mampu mencetak 235 keping blangko e-KTP. Soal blangko, Syafrudin menjamin tidak akan kehabisan. ”Hanya saja, proses pencetakan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan tenaga pegawai,” terangnya.

Jumlah yang bisa dicetak tiap hari terbatas, tapi yang mengantre berlipat banyaknya. Akhirnya yang kerap terjadi, banyak yang harus berkali-kali ”begadang” di kantor dispendukcapil.

”Penderitaan” para pengantre itu pun mendapatkan perhatian dari dewan. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Cirebon Supirman menyatakan, Pemkab Cirebon harus segera membenahi sistem.

”Sisi baiknya, kami menilai masyarakat sudah siap tertib administrasi kependudukan. Tapi, pemerintahnya malah belum siap,” kata Supirman.

Dia mencontohkan warga yang datang dari Losari. Untuk sampai ke Sumber saja butuh waktu sekitar dua jam. ”Belum antrenya, itu pun kalau dapat nomor antrean,” katanya.

Yang disampaikan Supirman itu dirasakan sendiri oleh Fikri. Dari rumahnya di Waled yang tak jauh dari Losari, bersama tiga rekan, dia berangkat ke Sumber sekitar pukul 04.00.

Sejam kemudian Fikri baru sampai di Sumber. Dan, apa yang dilihatnya? Antrean helm, sandal, botol, dan batu yang sudah mengular sedemikian panjang membuat nyalinya ciut. ”Ya, emang harus datang lebih awal (untuk bisa mendapatkan nomor antrean, Red),” katanya.

Kabar baiknya, Syafrudin menjamin, pada awal tahun depan masyarakat tak perlu lagi mewakilkan kepada helm, sandal, botol, dan batu untuk mendapatkan e-KTP. Sebab, per 27 Desember mendatang, pihaknya meluncurkan layanan online.

Dengan begitu, pada 3 Januari 2018 tidak ada lagi warga yang berebut antrean. ”Jadi, nanti warga yang ingin mencetak e-KTP bisa melakukan permohonan pencetakan melalui aplikasi online. Setelah diproses dan terdaftar, mereka bisa langsung mengambil e-KTP tanpa antrean,” ujarnya.

Tapi, itu masih nanti. Yang dihadapi para pengantre di dispendukcapil kemarin adalah perjuangan panjang dan melelahkan untuk mendapatkan apa yang menjadi hak mereka.

Seiring hari yang bertambah siang, masih banyak di antara mereka yang harus bertahan di kantor tersebut. Menunggu sembari mengantuk meski perut telah terisi nasi dan kopi sehabis mendapat nomor antrean tadi. (*/JPG/c10/ttg/rie)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.