Disperindag Waspadai Sembako

Lakukan Sidak di Sejumlah Pasar Tradisional

disperindag
SIDAK PASAR: Kepala Disperindag Jabar Hening Widiatmoko memeriksa tomat dan sejumlah sayuran lainnya, dalam kegiatan sidak pasar di Kiaracondong, kemarin (19/6)

jabarekspres.com, BANDUNG – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat melakukan sidak ke sejumlah pasar tradisional. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan harga bahan pokok di kota Bandung. Apakah harganya masih stabil atau sebaliknya.

Hening Widiatmoko, Kepala Disperindag Jabar yang memimpin sidak didampingi dinas pertanian dan BPOM. Dalam sidak itu dia mengaku kondisi lapangan jelang lebaran, harga-harga sembako biasanya lepas kendali. Sehingga terjadi lonjakan harga-harga yang membuat masyarakat resah.

Unutk itu katanya, Disperindag  melakuan sidak ke pasar Kordon Bandung dalam rangka pengawasan dan tertib niaga.

“Beberapa item sembako yang kami antau harganya masing-masing harga telur, ayam, dan cabai merah besar. Ketiganya mengalami kenaikkan  diatas harga eceran tertinggi (HET). Diharapkan masyarakat tidak panic buying. Kita sudah memantau keamanan stok yang tersedia berikut harganya,”terangnya saat di temui di pasar Kordon Kiaracondong kemarin (19/06).

Dia menjelaskan, berbagai komoditas saat ini sudah cukup stabil. Masyarakat diimbau untuk tidak berlebihan membeli berbagai komoditas kebutuhan lebaran sebagai langkah antisipasi pencegahan karena takut harga melonjak.

“Menjelang lebaran ini, harga bahan pokok di pasar tradisional masih tinggi. Harga bawang putih yang sudah menyentuh angka Rp. 40 ribu per kilogram. Ini kan  membuat kekhawatiran  di lingkungan masyarakat dimana bahan pokok jelang hari raya selalu naik tak terkontrol,”terangnya.

Pemerintah kata dia, memastikan sembako aman, suplaiya tidak akan terjadi kelangkaan, karena sudah siap untuk mengantisipasi kelangkaan komoditas dengan adanya percepatan distribusi.

Dia memaparkan harga ayam potong yang saat ini mencapai harga Rp. 36.000 per kilo gram, padahal HETnya Rp 32.000. Sedangkan harga telur Rp. 22.000 dan cabai merah besar yang mencapai harga Rp.69.000 dari rata-rata normal Rp. 40.000 dirasa sudah terkendali.

“Untuk cabai merah, karena tingginya konsumsi ya sehingga harganya mahal. Tapi untuk komoditas lainnya stabil, terutama ayam masih aman. Kalau harganya sudah Rp.38 ribu itu sudah peringatan bagi pemeritah,  apalagi kalau sudah sampai Rp.40 itu sudah harus berhati-hati,” beber dia.

Selain menyidak beberapa komoditas inti, Disperindag juga mewanti-wanti beberapa pedagang makanan olahan, seperti sosis, bakso dan nugget yang mejajakan barangnya di udara terbuka.

Dihadapan Badan POM Jabar, Hening menjelaskan, standar layak konsumsi makanan tersebut yaitu, setelah penyimpanan dalam frezzer dengan temperatur 18 derajat celsius.

“Kalau tidak difreezer atau bahkan dijual terbuka begini makanan akan cepat  rusak,” ujar dia.

Disperindag juga melakukan sidak ke pasar modern, yaitu retail Yogya Bojongsoang dan Trans Mart Carefour. Di beberapa item pangan di pasar retail tampak memiliki selisih harga, seperti harga telur per kilonya hanya mencapai Rp.18.700, sedangkan di pasar tradisional, mencapai Rp. 22.000.

“Harusnya ke depan HET juga berlaku di pasar tradisional. Seperti saat ini, harga gula pasir per kilonya Rp.12.500. harga ini merupakan harga yang disepakati bersama Aprindo. Sehingga HET nya tidak terjadi gejolak di masyarakat,” pungkasnya. (pan/gun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here