JABAR EKSPRES – Ekonomi Jawa Barat tumbuh kuat sebesar pada Triwulan III. Namun sektor pertanian menunjukkan kontraksi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat ekonomi Jawa Barat tumbuh kuat sebesar 5,89 persen secara y -on- y. Angka ini juga melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,47 persen.
Sementara itu Ekonomi Jawa Barat secara q-to-q tumbuh sebesar 0,62 persen dibandingkan Triwulan II 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan pola musiman historis di mana kinerja triwulan ketiga lebih rendah dari triwulan sebelumnya.
Baca Juga:Bupati Tasikmalaya Dorong Desa Bertransformasi Menuju Smart VillageImpor Barang Modal Melonjak, Tanda Ekspansi Industri Manufaktur Nasional
Dari sisi lapangan usaha secara y-on-y, BPS mencatat bahwa industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan porsi 40,67 persen dan tumbuh 4,98 persen. Sektor itu sekaligus memberikan sumber pertumbuhan terbesar yakni 2,09 persen.
Selanjutnya transportasi dan pergudangan serta konstruksi turut menjadi motor penggerak dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 13,61 persen dan 9,10 persen.
“Sedangkan kontributor utama dari sisi pengeluaran adalah konsumsi rumah tangga yang mendominasi struktur PDRB sebesar 63,80 persen dengan pertumbuhan 5,93 persen. Ia menyumbang sumber pertumbuhan sebesar 3,50 persen, ” kata Kepala BPS Jabar Margaretha Ari Anggorowati.
Namun kondisi memprihatinkan ada pada sektor pertanian. Laju pertumbuhannya justru kontraksi -3, 44 persen. Dugaannya salah satu penyebab lesunya sektor itu adalah kemarau yang berkepanjangan.
“Jadi memang kan sebenarnya sudah diprediksi bahwa akan ada El Nino. Jadi memang kekeringan itu betul-betul menjadi satu kendala,” terangnya.
Namun Ari menambahkan bahwa faktor lain adalah soal hitungan dasar dari luas baku lahan pertanian. “Tapi kekeringan jelas ada. Terutama itu terjadi di sentra-sentra yang memang produksi padi di Jabar, ” imbuhnya. (son)
