Impor Barang Modal Melonjak, Tanda Ekspansi Industri Manufaktur Nasional

Impor Barang Modal Melonjak, Tanda Ekspansi Industri Manufaktur Nasional
Ilustrasi impor barang modal. (Dok. Pixabay)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Peningkatan impor barang modal serta bahan baku dan penolong pada September 2026 menjadi indikasi meningkatnya aktivitas produksi dan ekspansi industri manufaktur nasional. Kenaikan tersebut mencerminkan kebutuhan industri terhadap mesin, peralatan, serta material untuk memenuhi peningkatan produksi dan pesanan baru.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan, pertumbuhan impor pada September 2026 didorong oleh meningkatnya kebutuhan barang modal serta bahan baku dan penolong yang digunakan untuk mendukung kegiatan industri dalam negeri.

“Hal ini membuktikan bawah impor yang terjadi sifatnya produktif dan merupakan penyebab utama bagi ekspansi sektor pengolahan dalam negeri,” kata Budi dikutip dari ANTARA, Rabu (4/11).

Baca Juga:Harga Minyak Dunia Anjlok, Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Damai AS-IranKPU Tasikmalaya Bekali Seluruh Pegawai Cakap Mengolah Informasi

Berdasarkan data perdagangan, nilai impor Indonesia pada September 2026 mencapai 24,23 miliar dolar AS. Angka tersebut meningkat 5,09 persen dibandingkan Agustus 2026 dan tumbuh 18,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara bulanan, kenaikan impor terbesar berasal dari kelompok barang modal yang tumbuh 12,14 persen. Selanjutnya, impor barang konsumsi meningkat 6,40 persen, sedangkan bahan baku dan penolong naik 3,12 persen.

Peningkatan impor tersebut sejalan dengan membaiknya aktivitas manufaktur nasional. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang naik dari 49,8 pada Agustus 2026 menjadi 52,4 pada September 2026. Posisi PMI di atas level 50 menunjukkan sektor manufaktur kembali berada dalam fase ekspansi.

Tren peningkatan impor juga terlihat sepanjang Januari-September 2026. Dalam periode tersebut, total impor Indonesia mencapai 210,63 miliar dolar AS, meningkat 19,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 176,01 miliar dolar AS.

Budi menjelaskan, seluruh kelompok penggunaan barang impor mencatatkan pertumbuhan positif secara kumulatif. Impor bahan baku dan penolong mengalami kenaikan tertinggi sebesar 21,11 persen, diikuti barang modal sebesar 16,49 persen dan barang konsumsi sebesar 15,54 persen.

Dari sisi komoditas, peningkatan impor nonmigas terbesar selama Januari-September 2026 terjadi pada kelompok kendaraan udara dan bagiannya yang melonjak 241,60 persen secara tahunan. Selain itu, impor garam, belerang, batu, dan semen tumbuh 127,03 persen, sementara bijih logam, terak, dan abu meningkat 51,67 persen.

Sementara itu, China, Jepang, dan Australia masih menjadi negara pemasok utama produk nonmigas ke Indonesia. Ketiga negara tersebut menyumbang 52,94 persen dari total impor nonmigas Indonesia pada Januari-September 2026, dengan nilai mencapai 94,27 miliar dolar AS.

0 Komentar