Viral Keluarga di Pacet, Tiga Anggota Diduga Alami Gangguan Mental, Bayi Baru Lahir Jadi Perhatian

Viral Keluarga di Pacet, Tiga Anggota Diduga Alami Gangguan Mental, Bayi Baru Lahir Jadi Perhatian
Kondisi sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, menjadi sorotan setelah kisah mereka viral di media sosial. Keluarga itu tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Foto Istimewa
0 Komentar

“Yang mengerikan, si Fahri diam dan duduk hidup di lingkungan yang tiga orang mentalnya tidak sehat. Fahri tidak pernah keluar, tidak bersosialisasi dengan anak sebayanya,” kata Yasa.

Ia mengatakan Fahri cenderung menyendiri, sedangkan Akbar masih sesekali bermain bersama teman-temannya. Kondisi tersebut membuat desa berharap ada perhatian khusus terhadap pengasuhan dan perkembangan kedua anak itu.

Kondisi rumah mereka juga menjadi persoalan. Yasa menggambarkan rumah berukuran sekitar 4 x 5 meter itu dipenuhi barang-barang, pakaian, serta kotoran. Bau menyengat dari dalam rumah turut menyulitkan orang yang hendak masuk untuk membantu.

Baca Juga:Jadi Inspirasi Kader Muda Nasional, Wagub Taj Yasin Berbagi Resep  KepemimpinanPilkades Digital Diklaim Murah, Ini Belanja Sewa Perangkatnya

Pemerintah desa, kata dia, sudah beberapa kali melakukan pembersihan. Namun, tanpa pendampingan dan perubahan kondisi yang berkelanjutan, rumah tersebut kembali kotor.

“Tahun kemarin dibersihkan, tahun sekarang juga sudah dibersihkan. Tapi karena tidak direhabilitasi, kotor lagi. Jadi kalau hanya dibersihkan, nanti kotor lagi. Harus ada penanganan lebih lanjut supaya kondisinya tidak terus berulang,” ujarnya.

Menurut Yasa, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan membersihkan rumah. Ia menilai anggota keluarga yang membutuhkan layanan kesehatan harus memperoleh penanganan yang tepat, sedangkan anak-anak perlu mendapat lingkungan yang lebih mendukung.

Yasa mengatakan keluarga itu tidak sepenuhnya luput dari perhatian masyarakat sekitar. Warga masih membantu kebutuhan sehari-hari, termasuk memberikan makanan sesuai kemampuan. Pemerintah desa juga ikut memantau keadaan keluarga tersebut bersama Babinsa.

“Saya melihat ini bukan masalah tetangga tidak peduli. Ini bukan masalah makan, warga tetap saling membantu meskipun seadanya. Desa pun seperti itu. Kalau ada yang bisa dibantu, kami bantu,” tutur Yasa.

Namun, bantuan tersebut dinilai belum menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar. Pemerintah desa, menurut Yasa, tidak memiliki kemampuan untuk menangani sendiri kondisi keluarga yang membutuhkan pemeriksaan dan rehabilitasi.

Ia mengaku sudah menyampaikan persoalan tersebut kepada pihak kecamatan dan puskesmas. Yasa berharap koordinasi itu dapat ditindaklanjuti dengan pemeriksaan langsung serta langkah penanganan yang sesuai.

Baca Juga:SMAN 21 Bandung Wakili Jabar di Grand Final AXIS Nation Cup 2026, Berebut Juara Nasional di Istora SenayanReuni 40 Tahun Alumni ITB 86, Siap Bersinergi Atasi Persoalan Bandung hingga Berkontribusi untuk Indonesia

“Saya sering bilang ke camat, ke Pak Sekcam. Pihak puskesmas juga sudah disampaikan. Kami dari desa sudah berusaha menyampaikan, karena ini memang perlu penanganan dari pihak yang punya kewenangan,” katanya.

0 Komentar