Hasil Lab MBG Negatif, Sanitasi Dapur Panyandaan Justru Bermasalah

Petugas menunjukan sampel uji laboratorium pemeriksaan deteksi keracunan makanan. Foto: Dimas Rachmatsyah / Ja
Petugas menunjukan sampel uji laboratorium pemeriksaan deteksi keracunan makanan. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan dalam kasus keracunan 14 siswa SD Garuda di Kabupaten Bandung Barat (KBB) tidak menemukan bakteri maupun zat kimia berbahaya.

Meski begitu, Satgas MBG menyoroti sejumlah persoalan higiene dan sanitasi di dapur penyedia makanan. Hasil pemeriksaan sarana dan prasarana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Panyandaan di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, menemukan sejumlah fasilitas yang belum memenuhi standar operasional prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional (BGN).

Ketua Satgas MBG Bandung Barat, Fauzan Azima, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium belum menunjukkan adanya kontaminasi mikrobiologi maupun zat kimia berbahaya pada sampel makanan. Namun, persoalan kebersihan dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) tetap menjadi perhatian dalam evaluasi kasus tersebut.

Baca Juga:Aneka Bencana Mengancam Tasik, TAGANA Bekali Linmas Pengetahuan PenanggulanganKisah Perjuangan Santri Cipasung Lahirkan UU Pesantren  

“Semua metode pemeriksaan menunjukkan hasil negatif. Tapi, kemungkinan pemicunya ada pada higiene sanitasi dan kebersihan atau perilaku hidup bersih dan sehat yang tidak diterapkan,” ujar Fauzan saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).

Diketahui, dugaan keracunan di SD Garuda dilaporkan terjadi pada Selasa hingga Rabu, 29-30 September 2026. Dinas Kesehatan KBB mencatat sebanyak 14 siswa mengalami gejala mual, muntah, dan pusing. Untuk kepentingan penyelidikan, petugas membawa sampel menu MBG berupa nasi putih, chicken cordon bleu, kacang polong goreng, mix vegetables, dan kelengkeng ke UPT Laboratorium Kesehatan Masyarakat KBB.

Fauzan menjelaskan, hasil pengujian tidak mendeteksi bakteri Salmonella maupun zat kimia seperti boraks dan formalin dalam sampel makanan tersebut. Meski demikian, hasil pemeriksaan terhadap dapur SPPG Panyandaan menemukan sejumlah catatan yang perlu segera ditindaklanjuti.

Temuan itu, lanjut dia meliputi belum tersedianya gudang ompreng, ruang persiapan makanan yang masih menyatu dengan ruang persiapan porsi besar, serta jalur makanan bersih dan kotor yang belum terpisah.

“Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi selama proses pengolahan dan penyajian makanan,” katanya.

Selain itu, gudang bersih di bagian depan masih menyatu dengan garasi. Menurut Fauzan, kondisi tersebut perlu diperbaiki karena aktivitas kendaraan yang keluar-masuk berpotensi menimbulkan paparan karbon monoksida di area penyimpanan.

0 Komentar