Jabar Ekspres – Kebakaran hutan berulang kali melanda kawasan Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, sepanjang musim kemarau.
Berdasarkan data dari Polisi Hutan (Polhut) Perum Perhutani KPH Bandung Utara, tiga kejadian kebakaran menghanguskan lahan dengan total luas diperkirakan mencapai 2,1 hektare.
Komandan Regu (Danru) Polisi Hutan (Polhut) Perum Perhutani KPH Bandung Utara, Budi Hartono, mengatakan ketiga kejadian kebakaran tersebut terjadi di lokasi berbeda.
Baca Juga:Perkuat Sinergi Pelaku Wisata, DPD PUTRI Jabar Luncurkan SAPA PUTRI untuk Dorong Inovasi PariwisataXL Ultra 5G+ Makin Luas di Bandung, Internet Ngebut hingga 500 Mbps Dukung Aktivitas Kampus dan Bisnis
“Betul, sudah tiga kali kejadian,” ujar Budi saat dikonfirmasi, Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan hasil identifikasi awal di lapangan, ketiga kebakaran itu diduga berkaitan dengan aktivitas manusia. Namun, penyebab pasti kebakaran masih perlu dipastikan melalui penyelidikan lebih lanjut.
Budi menyebut, kebakaran terjadi pada siang hari, sekitar pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, ketika cuaca sedang panas. Kondisi tersebut diperparah kemarau panjang yang membuat vegetasi dan serasah di permukaan tanah mengering.
“Kondisi sekarang memang kering. Karena kemarau itu sudah menginjak lima bulan,” kata Budi.
Dari tiga kejadian tersebut, kebakaran pertama menghanguskan sekitar 100 meter persegi lahan. Luas area terdampak relatif kecil karena petugas bergerak cepat melakukan pemadaman.
Sementara itu, kebakaran kedua membakar sekitar satu hektare lahan. Kebakaran ketiga juga dilaporkan menghanguskan area dengan luas sekitar satu hektare.
Lokasi kebakaran berada di kawasan hutan Perum Perhutani yang biasa dilintasi masyarakat, termasuk pencari rumput dan pendaki. Jarak antarlokasi bervariasi, mulai sekitar 100 meter hingga satu kilometer.
Baca Juga:Hari Santri 2026, Bupati Cecep Dorong Pesantren Tasikmalaya Lebih Profesional dan AdaptifTragis! Niat Cari Kayu Bakar, Kakek 65 Tahun di Culamega Tasikmalaya Tewas Terpanggang di Kebun Sendiri
Untuk mengantisipasi kebakaran susulan, Perhutani menempatkan empat hingga lima personel di sejumlah titik rawan. Mereka melakukan patroli sekaligus bersiaga dengan membawa peralatan penanganan kebakaran hutan.
“Kami juga berkoordinasi dengan instansi terkait, baik Muspika setempat maupun LMDH dan komunitas-komunitas lainnya,” jelas Budi.
Selain patroli, upaya pencegahan dilakukan melalui pemasangan papan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat. Perhutani juga memberlakukan larangan pendakian di sejumlah lokasi yang belum dibuka kembali.
“Sampai saat ini aktivitas pendakian Gunung Tangkuban Parahu masih ditutup. Namun, masyarakat yang mencari rumput masih dibolehkan masuk untuk pakan ternak,” pungkasnya. (Wit)
