BMKG Jelaskan Penyebab Lonjakan Suhu Panas di Bandung Raya, Posisi Gerak Semu Matahari Jadi Salah Satu Faktor 

Pekerja mengenakan payung saat melintas di perkantoran Jalan Dr, Djunjunan, Kota Bandung, Rabu (21/10/2026). B
Pekerja mengenakan payung saat melintas di perkantoran Jalan Dr, Djunjunan, Kota Bandung, Rabu (21/10/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika (BMKG) Bandung mencatat suhu maksimum Kota Bandung mencapai 35 derajat pada Oktober 2026. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lakukan analisa terkait posisi gerak matahari yang berdampak pada panasnya cuaca dan suhu di wilayah Bandung Raya.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi mengatakan, dalam hal ini lonjakan suhu dan cuaca terik di wilayah Bandung Raya dipengaruhi oleh beberapa faktor utama.

Adapun salah satu faktor tersebut yakni, dipengaruhi oleh posisi gerak semu matahari. Pada periode tertentu, khususnya memasuki September hingga Oktober dan saat peralihan musim, posisi gerak semu matahari berada tepat di atas atau dekat dengan wilayah Jawa/Ekuator.

Baca Juga:Kemarau Panjang Cekik Warga Pesisir Tasikmalaya, 12.000 Liter Air Bersih DisalurkanJaga Keandalan Pasokan Energi, Nusantara Regas Salurkan 33 Kargo LNG hingga Triwulan III 2026

“Hal ini mengakibatkan intensitas radiasi matahari yang diterima permukaan bumi menjadi lebih optimal dan maksimal,” kata Suaidi melalui pesan yang diterima Jabar Ekspres pada Rabu (21/10/2026).

Kemudian minimnya tutupan awan atau cerah berawan, dinilai menjadi faktor lain yang mempengaruhi lonjakan suhu dan cuaca terik di wilayah Bandung Raya.

Dijelaskan Suaidi, kurangnya pertumbuhan awan konvektif di siang hari menyebabkan sinar matahari langsung menembus ke permukaan bumi tanpa ada penghalang.

“Hal tersebut membuat radiasi sinar UV terasa sangat menyengat di kulit,” jelasnya.

Faktor lainnya, ujar Suaidi, yakni kelembapan udara dari kombinasi antara temperatur udara yang tinggi dan kelembapan udara yang bervariasi, dinilai dapat memicu sensasi gerah.

“Kondisi ini wajar terjadi menjelang transisi musim/pancaroba atau puncak kemarau,” ujarnya.

Suaidi menambahkan, dalam hal ini tren kenaikan suhu jangka panjang pun menjadi faktor yang menyebabkan lonjakan suhu dan cuaca terik.

Baca Juga:Bagikan Sembako dan Santuni 150 Anak Yatim, PT MBK Ventura Gandeng OJK Edukasi Keuangan Warga TanjungsariKampanye Telur Baik Sapa Pengunjung PIM 5, ICFA Ajak Konsumen Kenali Telur Ayam Bebas Sangkar

“Secara statistik iklim, rata-rata suhu udara tahunan di Bandung memang menunjukkan tren kenaikan bertahap, akibat dampak dinamika iklim global serta pemukiman/emisi kendaraan yang terus meningkat di wilayah perkotaan,” bebernya.

Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, serta berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.

“Tetap tenang namun siaga, mengenali risiko di lingkungan sekitar, serta selalu memperbarui informasi cuaca dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana,” imbuhnya.

0 Komentar