“Jangan sampai teknologi yang dibuat justru sulit digunakan. Aplikasi ini harus benar-benar bermanfaat bagi petambak tradisional dan dapat diterapkan dalam kegiatan mereka sehari-hari,” ujarnya.
Ia mendorong keterlibatan dosen, mahasiswa, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya untuk terus melakukan pengujian di lapangan. Melalui proses itu, manfaat Smart Tambak dapat dievaluasi secara nyata, termasuk dalam pengendalian penyakit, menjaga kualitas lingkungan, dan meningkatkan produktivitas tambak. Pembuktian manfaat melalui penerapan langsung menjadi penting agar teknologi tidak berhenti pada tahap penelitian, melainkan digunakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
First Secretary Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Dr. Reiko Taike, menyatakan dukungannya terhadap penelitian Smart Tambak dan upaya peningkatan pemanfaatan hasil riset untuk sektor budidaya perikanan. Kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Australia, menurutnya, memiliki peluang menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam mendukung pengembangan budidaya di wilayah darat, laut, dan pesisir.
Baca Juga:Yonarmed 4/Parahyangan Gagalkan Penyelundupan di Perbatasan, Pangdam III/Siliwangi Beri ApresiasiHUT ke-62 Golkar: Kader Jabar Perkuat Pengabdian dan Regenerasi di TMP Cikutra
Penelitian perlu diarahkan agar hasilnya dapat diterapkan secara lebih luas dan memberi manfaat langsung bagi pelaku usaha. Pengembangan Smart Tambak diharapkan menjadi salah satu contoh kolaborasi riset yang menghubungkan perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam menjawab persoalan di sektor perikanan. Dukungan itu sekaligus membuka peluang penguatan kerja sama Indonesia-Australia dalam mendorong inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan petambak.
Pengenalan Smart Tambak di Bandung menandai langkah awal mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung budidaya udang yang lebih efektif dan berkelanjutan. Melalui pendekatan riset partisipatif, Unpad dan UNSW Business School Australia berupaya memastikan pengembangan aplikasi tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi, tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, dan pengalaman petambak di lapangan.
Ke depan, perluasan uji coba, pendampingan pengguna, serta evaluasi dampak terhadap produktivitas dan pengendalian penyakit akan menjadi bagian penting pengembangan aplikasi tersebut. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan para pelaku usaha, Smart Tambak diharapkan berkembang menjadi salah satu inovasi digital yang membantu petambak tradisional menghadapi tantangan budidaya, mengurangi risiko kerugian, serta memperkuat daya saing sektor perikanan Indonesia. (bbs)
