Meski demikian, Hamzah mengakui pengukuran dampak secara kuantitatif terhadap peningkatan produktivitas maupun hasil ekonomi petambak masih memerlukan penelitian lanjutan. Ia berharap dukungan pemerintah daerah, KKP, dan berbagai pemangku kepentingan dapat memperluas sosialisasi serta pemanfaatan Smart Tambak. Aplikasi ini dirancang agar dapat digunakan melalui perangkat Android dengan spesifikasi beragam. Harapannya, petambak tradisional lebih mudah menjangkaunya.
Direktur Kelautan dan Perikanan Kementerian KKP, Mohamad Rahmat Mulianda, menyambut baik pengembangan Smart Tambak. Ia menilai inovasinya sejalan dengan upaya mendorong pemanfaatan teknologi di sektor perikanan. Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap perekonomian nasional. Salah satu caranya adalah meningkatkan produktivitas usaha budidaya melalui penerapan teknologi yang sesuai kebutuhan pelaku usaha.
Menurut Rahmat, sistem digital seperti Smart Tambak berpotensi membantu petambak memantau kondisi budidaya, mengenali indikasi gangguan penyakit, serta mengambil langkah mitigasi lebih cepat. “Dengan sistem digital seperti ini, pengelolaan tambak bisa dipantau lebih baik. Jika terdapat indikasi penyakit yang berpotensi mengganggu panen atau produksi, petambak diharapkan dapat melakukan langkah mitigasi lebih awal,” jelasnya.
Baca Juga:Yonarmed 4/Parahyangan Gagalkan Penyelundupan di Perbatasan, Pangdam III/Siliwangi Beri ApresiasiHUT ke-62 Golkar: Kader Jabar Perkuat Pengabdian dan Regenerasi di TMP Cikutra
Pemanfaatan teknologi juga berpeluang mendukung pengelolaan kawasan budidaya dan pemantauan aspek lingkungan, termasuk pengelolaan limbah agar lebih terkendali. Rahmat menambahkan, inovasi di sektor perikanan penting untuk menarik minat generasi muda agar melihat budidaya sebagai peluang usaha dan profesi yang menjanjikan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku usaha dinilai diperlukan agar Smart Tambak berkembang sesuai kebutuhan industri sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Staf Ahli Bappenas Bidang Ekologi, Dr. Hendra Yusran Siry, juga menyambut baik Smart Tambak sebagai alternatif solusi menghadapi tantangan penyakit dalam budidaya udang. Penyakit udang, menurutnya, perlu mendapat perhatian serius karena penyebarannya dapat berlangsung cepat dan berpotensi menimbulkan kerugian besar. Kemampuan mendeteksi indikasi penyakit sejak dini menjadi salah satu faktor penting menjaga keberlangsungan produksi.
Ia berharap aplikasi ini membantu petambak memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mengenali potensi gangguan serta menentukan langkah penanganan yang tepat. Namun, Hendra mengingatkan bahwa keberhasilan inovasi tidak cukup hanya ditentukan oleh tersedianya aplikasi. Teknologi harus mudah digunakan, sesuai kemampuan perangkat yang dimiliki petambak, serta didukung edukasi dan pendampingan memadai.
