JABAR EKSPRES – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi perbincangan luas di media sosial setelah video dirinya memarahi warga viral. Berbeda dari citranya yang selama ini dikenal ramah dan kerap turun langsung mengabulkan permintaan masyarakat, kali ini Dedi Mulyadi menunjukkan sikap defensif dan terang-terangan menolak merespons tuntutan perbaikan jalan rusak.
Pemicunya adalah aksi warga Dusun Sidamukti, Desa Cintajaya, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, yang mencegat dan membelokkan rute perjalanannya, Sabtu (17/10/2026).
Warga sengaja mengarahkan rombongan ke jalur yang kondisinya memprihatinkan sambil merekam video menggunakan ponsel. “Jalannya butut, Ciamis nih, jalan butut nih pak KDM,” seru seorang warga dalam rekaman tersebut.
Baca Juga:Dua Rumah dan Kandang Ternak di Tasikmalaya Ludes Terbakar, 12 Ekor Domba Mati TerpanggangBupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK, Ahmad Luthfi Sudah Ingatkan Pentingnya Clean and Good Government
Insiden itu memicu reaksi keras dari Dedi Mulyadi. Ia menilai pencegatan tersebut bukanlah penyampaian aspirasi yang elegan, melainkan pemaksaan yang merampas hak personalnya.
Gubernur menjelaskan bahwa jadwal kerjanya hari itu sangat padat sejak pukul 07.00 WIB. Waktu satu jam yang seharusnya digunakan untuk beristirahat di dalam mobil pun kacau akibat pencegatan itu.
“Jam segini belum selesai kegiatan tiba-tiba kita ini coba istirahat satu jam di mobil sampai ke lokasi, oleh ibu disiksa saya dibelokin dulu. Gak boleh begitu,” ujar Dedi.
Dalam video yang beredar, Dedi Mulyadi juga menyoroti perbedaan tata krama warga Lakbok dengan warga di kecamatan lain. Ia merasa etika dan kesopanan masyarakat Sunda tidak tercermin dari cara warga mengadang kendaraannya.
“Orang Sukamantri, Panjalu, kok punya adab sepanjang jalan, kok orang sini begini. Ada saatnya juga saya pada warga memberi penjelasan dan pengertian. Saya mengerti warga, tapi warga pun juga harus mengerti, saya juga manusia. Saya hanya punya waktu 1 jam punya waktu untuk duduk di mobil karena pasti di sana bergumul warga,” ungkapnya.
Meski demikian, Dedi Mulyadi menegaskan dirinya tidak anti terhadap kritik. Ia mengaku siap membantu perbaikan jalan asalkan disampaikan dengan cara yang manusiawi, bukan melalui tekanan publik atau viral di media sosial.
“Padahal sederhana saja, pak jalannya nanti juga saya perhatikan. Tidak mesti, saya ini bukan orang dungu, bukan bodoh, bukan orang yang tidak pernah peduli warga saya nih. Cukup diberitahu pak jalan sini jelek, itu saja cukup,” tegas Dedi.
