BANDUNG – Membaca bukan sekadar membuka halaman. Bagi Kebukit Indonesia, membaca adalah percik api yang mampu menyalakan akal, rasa, sekaligus aksi nyata. Rabu (14/10/2026), organisasi nirlaba itu membuktikan komitmennya dengan menyerahkan bantuan buku literasi numerasi kepada SDN Ciburial 03 di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Program yang diberi nama “Nyala Baca” ini diinisiasi untuk menyalakan semangat membaca di tengah ekosistem pendidikan. Founder Kebukit Indonesia, Nuriska Fahmiany, menjelaskan filosofi di balik nama tersebut. “Nyala Baca secara filosofis diartikan bahwa kegiatan membaca adalah awal untuk menyalakan berbagai hal baik,” ujarnya.
“Kedepannya ‘Nyala Baca’ akan berisi kegiatan-kegiatan literasi dengan tujuan di atas, sehingga kegiatan literasi tidak berhenti hanya di pemberian donasi buku,” tegas Nuriska. Ia menekankan pentingnya keterlibatan para guru. Bersama mereka, Kebukit Indonesia akan merancang program-program lanjutan. Terdekat, organisasi itu sudah mencanangkan program literasi khusus untuk para guru sebagai jantung utama literasi dan pendidikan di sekolah.
Baca Juga:Buku Bantuan Tiba, Budaya Baca di Sekolah Lereng Bukit Makin MenyalaTerancam Jalan di Tempat, Transum di Bandung Butuh Subsidi APBD
Beberapa ide untuk siswa pun sudah didiskusikan, di antaranya literasi lingkungan. “Semoga banyak pihak yang bisa mendukung rencana kegiatan literasi ini,” harap Nuriska.
Namun, jalan menuju nyala yang lebih besar masih penuh tantangan. Hambatan utama terletak pada pendanaan. “Belum banyak yang concern terhadap program-program literasi,” akunya. Estimasi anggaran hingga saat ini masih in progress karena sangat bergantung pada program spesifik yang akan digulirkan.
Dari sisi sumber daya manusia, Kebukit Indonesia membuka pintu bagi siapa saja yang punya antusiasme terhadap gerakan literasi. Latar belakang pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan program. “Misalnya literasi berbasis lingkungan, maka kami akan butuh akademisi atau praktisi yang mempunyai ilmu atau concern tentang lingkungan,” jelas Nuriska.
