KABUPATEN BANDUNG – Penantian panjang akhirnya berbuah. Rabu (14/10/2026), SDN Ciburial 03 di Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, menerima bantuan buku literasi numerasi. Kepala Sekolah Atik Tafrikhah, S.S., menyebut momen itu bukan sekadar serah terima, melainkan jawaban atas upaya yang sudah digarap sejak lama. “Saya merasa seperti penantian panjang yang akhirnya dijawab,” ujar Atik saat dihubungi Jabar Ekspres melalui pesan WhatsApp, malam.
Bermula dari permohonan sederhana menambah koleksi buku, lalu dilanjutkan proposal resmi lengkap dengan foto kondisi sekolah, sudut baca, dan anak-anak yang sedang membaca. Koleksi perpustakaan yang terbatas membuat siswa kesulitan menghadapi soal cerita dan hitung-hitungan sehari-hari, meski mereka sudah mampu membaca.
Sekolah kecil di lereng bukit itu hanya memiliki 123 siswa dari Kelas 1 hingga 6. Gedung sederhana, perpustakaan yang sekaligus dipakai sebagai ruang Kelas 5, serta akses jalan menanjak yang licin saat hujan menjadi pemandangan sehari-hari. Namun di tengah kesederhanaan itu, budaya membaca sudah lebih dulu hidup.
Baca Juga:Terancam Jalan di Tempat, Transum di Bandung Butuh Subsidi APBDTelkom Dukung Perbaikan 20 Rutilahu di Cileunyi Wetan Demi Hunian Layak dan Berkelanjutan
Sejak Atik menjabat kepala sekolah, Gerakan Literasi Sekolah digelar rutin. Setiap hari di seluruh kelas, siswa membaca, mereviu, lalu mempresentasikan buku di depan teman-temannya. Setiap Rabu pagi, seluruh warga sekolah melaksanakan Readathon-membaca bersama selama 15 menit, dilanjutkan presentasi di hadapan seluruh sekolah. “Kami sudah punya wadah dan kebiasaannya. Buku-buku baru ini tinggal mengisi dengan bahan bacaan yang lebih beragam dan relevan,” katanya.
Bantuan tersebut datang bersamaan dengan pelaksanaan pemenuhan mutu Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI). Kegiatan literasi yang sudah berjalan dijadikan bagian dari upaya menjawab indikator prioritas berbasis data Rapor Pendidikan, terutama pada numerasi dan kebinekaan yang berkaitan erat dengan literasi numerasi.
“Bantuan ini datang bukan ke sekolah yang baru mulai, melainkan ke sekolah yang sudah berusaha menyala sejak lama,” tegas Atik.
Menurutnya, buku-buku itu bukan hanya tambahan koleksi, melainkan penguat bagi pemenuhan mutu yang sedang diperjuangkan. Juga menjadi bukti bahwa permohonan tulus, proposal jujur, dan rutinitas yang dijaga setiap hari pada akhirnya menemukan waktunya untuk terealisasi. (tur)
