“Yang kami dorong adalah bagaimana siswa tidak hanya tahu bahwa gempa itu berbahaya, tetapi juga tahu harus berbuat apa ketika gempa terjadi. Mulai dari menjaga diri, tidak panik, mencari posisi aman, sampai mengetahui jalur evakuasi,” ujar perwakilan relawan.
Selain edukasi di PKBM Binar, kolaborasi tersebut dirancang sebagai langkah awal dari program berkelanjutan yang ditargetkan dapat menjangkau sekolah-sekolah di seluruh wilayah Tangerang Selatan.
Program edukasi tersebut juga diarahkan untuk dapat diberikan secara gratis. Dengan demikian, pengetahuan mengenai mitigasi bencana diharapkan dapat menjangkau lebih banyak siswa dan lingkungan pendidikan tanpa terkendala biaya.
Baca Juga:35 Tahun Len, Dorong Kemandirian Teknologi Pertahanan Indonesia dari Riset hingga IndustrialisasiWabup Dorong SOR Mangunreja Berstandar FIFA, Bidik Homebase Persitas
“Harapannya, kegiatan ini bisa terus berjalan dan menjangkau lebih banyak sekolah di Tangerang Selatan. Edukasi kebencanaan seharusnya bisa diakses siapa saja, sehingga semakin banyak anak dan guru yang memiliki pengetahuan dasar untuk menghadapi keadaan darurat,” tutur Riko.
Menurutnya, membangun budaya sadar bencana membutuhkan proses dan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, kolaborasi antara komunitas relawan, lembaga pendidikan dan berbagai elemen masyarakat dinilai penting untuk memperluas edukasi mitigasi bencana.
Sementara itu, antusiasme peserta dalam mengikuti simulasi menjadi bagian penting dari kegiatan. Materi yang disampaikan secara interaktif membuat peserta tidak hanya menerima informasi secara satu arah, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memahami langkah-langkah penanganan kondisi darurat secara lebih praktis.
Edukasi tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa mitigasi bencana bukan hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi. Kesiapan menghadapi gempa justru perlu dibangun sejak sebelum bencana, mulai dari mengenali potensi risiko, memahami prosedur keselamatan hingga mengetahui cara melakukan evakuasi.
Dengan pengetahuan tersebut, siswa dan pengajar diharapkan dapat menjadi bagian dari masyarakat yang lebih siap menghadapi bencana.
Kolaborasi Rapid Indonesia, Semut Tangsel, IEA Tangsel dan Orki pun menjadi salah satu upaya memperluas literasi kebencanaan di Tangerang Selatan. Edukasi yang dilakukan sejak dini diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya aktif dalam kegiatan belajar, tetapi juga memiliki kesadaran terhadap keselamatan dan kesiapsiagaan bencana. (*)
