Influenza A, sejak Pandemi 1918 hingga lonjakan kasus 2026

H3N2
Ilustrasi sampel virus influenza A(H3N2) subclade K yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tengah meningkatnya temuan kasus influenza di Indonesia. (ANTARA/HO - Kementerian Kesehatan (Kemenkes))
0 Komentar

Artinya, keberadaan virus pada hewan tetap perlu diawasi, tetapi belum berarti H5N1 sedang menyebar luas dari manusia ke manusia. Inilah alasan pengawasan influenza tidak hanya dilakukan di rumah sakit dan laboratorium, tetapi juga pada populasi hewan.

“Superflu” H3N2

Pada awal 2026, perhatian publik Indonesia sempat tertuju pada Influenza A(H3N2) subclade K. Istilah “superflu” sempat digunakan untuk menggambarkan virus tersebut di ruang publik. Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa H3N2 bukan virus baru dan tetap merupakan bagian dari influenza musiman.

Kementerian Kesehatan mendeteksi subclade K pertama kali di Indonesia pada Agustus 2025 melalui sistem surveilans influenza dan pemeriksaan genom virus. Hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus subclade K di delapan provinsi. Jumlah itu kemudian meningkat menjadi 74 kasus dari 204 spesimen Influenza A(H3N2) yang diperiksa sejak Januari 2025 hingga pertengahan Januari 2026.

Baca Juga:Temui Gubernur Banten, Telkom Akses Dorong Penguatan dan Penataan Infrastruktur DigitalFeel Koplo Guncang CFD Bekasi di Extrajoss Ultimate Takeover

Meski sempat menjadi perhatian, pemerintah tidak menyebut fenomena tersebut sebagai pandemi. Tren kasus juga kemudian menunjukkan penurunan.

Salah satu hal yang menarik perhatian dalam perkembangan subclade K adalah pola kelompok usia yang terdampak. Sejumlah laporan menunjukkan virus tersebut banyak ditemukan pada anak-anak dan kelompok usia produktif.

Dampaknya tidak selalu berupa penyakit berat. Dalam banyak kasus, influenza tetap menimbulkan gejala ringan hingga sedang. Namun, ketika banyak orang terserang secara bersamaan, dampaknya dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari meningkatnya ketidakhadiran siswa di sekolah hingga pekerja yang harus beristirahat di rumah.

Beberapa bulan setelah perhatian terhadap H3N2 subclade K mereda, pola influenza kembali berubah. Data pemantauan Kementerian Kesehatan yang diperbarui pada 19 September 2026 menunjukkan proporsi spesimen positif influenza pada pekan ke-36 mencapai 46 persen. Angka tersebut meningkat dari 35 persen pada pekan sebelumnya.

Dari 185 spesimen yang diperiksa, 86 dinyatakan positif influenza. Sebagian besar merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, yakni 76 kasus. Selain itu ditemukan delapan kasus H3N2 dan dua kasus Influenza B/Victoria.

Secara keseluruhan, melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), Indonesia mencatat 1.132.498 kasus influenza-like illness atau penyakit dengan gejala menyerupai influenza hingga pekan ke-36 2026.

0 Komentar