Influenza A, sejak Pandemi 1918 hingga lonjakan kasus 2026

H3N2
Ilustrasi sampel virus influenza A(H3N2) subclade K yang menjadi perhatian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tengah meningkatnya temuan kasus influenza di Indonesia. (ANTARA/HO - Kementerian Kesehatan (Kemenkes))
0 Komentar

Infeksi influenza juga dapat diikuti infeksi bakteri. Komplikasi yang muncul pada seseorang dengan influenza berat tidak selalu disebabkan oleh virus influenza semata.

Salah satu alasan influenza terus bertahan adalah kemampuannya berubah. Perubahan pertama dikenal sebagai antigenic drift, yakni perubahan kecil yang terjadi secara bertahap pada virus. Perubahan ini dapat membuat sistem kekebalan tubuh tidak lagi mengenali virus dengan sempurna. Itulah salah satu alasan vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala.

Ada pula perubahan yang jauh lebih besar, yang dikenal sebagai antigenic shift. Peristiwa ini dapat terjadi ketika dua virus influenza berbeda menginfeksi satu inang pada waktu yang sama dan kemudian bertukar bagian materi genetik.

Baca Juga:Temui Gubernur Banten, Telkom Akses Dorong Penguatan dan Penataan Infrastruktur DigitalFeel Koplo Guncang CFD Bekasi di Extrajoss Ultimate Takeover

Hasilnya dapat berupa virus dengan kombinasi sifat yang berbeda dari virus sebelumnya.

Babi sering menjadi perhatian dalam pembahasan ini karena memiliki reseptor yang memungkinkan terjadinya infeksi dari beberapa jenis virus influenza. Pertukaran materi genetik kemudian berpotensi menghasilkan virus baru yang belum banyak dikenali oleh sistem kekebalan manusia.

Perubahan besar seperti inilah yang dalam sejarah berkaitan dengan munculnya sejumlah pandemi influenza, termasuk pandemi 1957, 1968, dan 2009.

Influenza A juga berbeda dari Influenza B yang terutama beredar pada manusia. Influenza A dapat ditemukan pada berbagai jenis hewan, termasuk unggas dan babi. Keragaman inang tersebut membuat virus memiliki ruang yang luas untuk terus berevolusi.

H5N1 dan Flu Hewan

Salah satu jenis Influenza A yang paling banyak dipantau dunia adalah H5N1 atau flu burung. Virus ini terutama beredar pada unggas, tetapi dalam sejumlah kasus juga dapat menginfeksi manusia dan berbagai jenis mamalia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 993 kasus infeksi H5N1 pada manusia yang dilaporkan sejak awal 2003 hingga 26 Januari 2026. Dari jumlah tersebut, 477 orang meninggal dunia.

Indonesia memiliki sejarah panjang dengan H5N1. Berdasarkan data WHO kawasan Pasifik Barat, Indonesia mencatat 200 kasus pada manusia dengan 168 kematian sejak 2003 hingga akhir 2025.

Baca Juga:Secangkir Kopi, Sejuta Mimpi’, DAM Gelar Seminar Safety Riding di Universitas WidyatamaRamadhipa Siap Melesat, Jaga Asa Papan Atas Moto3 Junior Aragon

Meski angka tersebut menunjukkan dampak serius H5N1 pada manusia, kondisi saat ini perlu dibedakan dari situasi pandemi. WHO masih menilai risiko kesehatan masyarakat dari virus Influenza A(H5N1) pada manusia sebagai rendah karena belum ditemukan penularan antarmanusia yang berkelanjutan.

0 Komentar