Siang itu deru ringan mesin jahit menggema dari sepetak ruang tamu Nining Idaningsih. Ia sedang sibuk menyatukan perca limbah denim menjadi tote bag. Jarum jahit dipaksa untuk tidak berhenti, karena lingkaran merah di kalender sudah terlihat jelas. Itu tanda deadline pameran yang makin dekat.
Hendrik Muchlison, Kabupaten Bandung, Jabar Ekspres
Bagi Nining, warna denim bekas yang tak benar – benar sama justru jadi keunggulan. Ia tidak bisa menjanjikan produk yang seragam, namun di situlah nilai jualnya. Setiap tas yang dilahirkan nyaris tak memiliki kembaran.
Ibu Rumah Tangga (IRT) itu adalah Founder sekaligus pekerja utama PercaNtik, Usaha Mikro yang dirintisnya dari rumah di Kabupaten Bandung. Ia mengubah sesuatu yang dianggap sisa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Baca Juga:Dorong Ketahanan Energi Nasional, SAKA Tajak Sumur Eksplorasi SM-1 di WK PekawaiJaga Keberlangsungan Pembangunan, Bupati dan DPRD Purwakarta Sahkan Raperda Perubahan APBD 2026
Usaha itu bermula tiga tahun lalu. Kala itu ia mendapat undangan untuk hadir dalam acara di salah satu kampus ternama di Kota Bandung. Perempuan 51 tahun itu butuh tas yang agak besar namun praktis untuk dibawa ke acara tersebut.
Kemudian saat membongkar lemari, ia mendapati banyak jaket dan celana denim bekas yang menumpuk. Daripada dibuang, ia pun mencoba membuat tas dari aneka limbah denim tersebut. “Coba-coba saja saat itu, sayang juga jika dibuang,” ucapnya kepada Jabar Ekspres, Rabu (23/9).
Tas itu jadi dan dibawanya ke acara kampus. Namun siapa sangka, tas tersebut banyak mendapat pujian dari peserta lain. “Banyak yang suka, mereka mau beli juga,” ucapnya dengan sumringah.
Kesan hari itu menjadi awal bersejarah dalam perjalanan Nining. Ia kemudian bersemangat untuk memproduksi aneka tas dari limbah denim hingga sampai saat ini.
Satu per satu pesanan datang. Sampai-sampai stok denim bekas di lemari Nining habis. Ia pun kemudian berburu denim bekas ke Pasar Induk Gedebage Kota Bandung.
Kini thrifting denim bekas ke pasar induk itu menjadi rutinitas Nining dalam sirkulasi usaha. Yakni untuk memenuhi bahan baku usaha yang tengah ditekuni. “Ada juga dari tetangga atau teman. Kami beli, untuk denim bekas yang sekiranya masih layak untuk diolah,” sambungnya.
