BANDUNG – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat Ono Surono menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Sabtu (26/9/2026). Bagi Ono, kepergian Guruh Soekarnoputra bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga besar PDI Perjuangan, tetapi juga bagi dunia politik, seni, dan kebudayaan Indonesia.
Ono mengenang pertemuan terakhirnya dengan Guruh saat putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno tersebut hadir di Bandung, Jawa Barat. Saat itu, Guruh menghadiri kegiatan bedah buku karya Fatmawati Soekarno sekaligus menjadi juri Fatmawati Trophy, sebuah perlombaan desain kebaya yang mengangkat gaya dan warisan Fatmawati.
Menurut Ono, banyak pesan yang disampaikan Guruh dalam kesempatan tersebut. Salah satunya mengenai pentingnya peran perempuan dalam kehidupan berbangsa dan pembangunan Indonesia. “Mas Guruh ketika itu banyak menyampaikan pesan kepada kaum perempuan. Beliau memandang perempuan sebagai tiang negara yang harus ikut terlibat langsung dalam proses pembangunan tanpa meninggalkan kodratnya,” kata Ono, Sabtu (26/9/2026).
Baca Juga:Margin Error Data Kemiskinan Bandung Naik ke 15,9 Persen, Soni: Harus Digital Berbasis NIK SMAN 1 Nagreg Genjot Lulusan Kuliah Lewat TKA
Ono mengatakan, pemikiran Guruh tidak dapat dilepaskan dari kecintaannya yang begitu besar terhadap Indonesia. Guruh dikenangnya sebagai sosok yang senantiasa menempatkan Indonesia, dengan seluruh keragaman budaya dan identitas bangsanya, sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dibanggakan.
Kecintaan tersebut tidak hanya disampaikan melalui pemikiran dan perjalanan politiknya, tetapi juga diwujudkan melalui berbagai karya seni dan kebudayaan. “Beliau adalah politisi yang sangat mengagungkan Indonesia sebagai negara dan bangsa. Kekayaan serta keberagaman budaya Indonesia menjadi bagian yang tidak pernah terpisahkan dari perjalanan beliau sebagai budayawan dan seniman yang terus melahirkan karya,” ujarnya.
Di luar kiprahnya sebagai politisi, seniman, dan budayawan, Ono juga mengenang Guruh sebagai pribadi yang hangat dan terbuka. Sikap tersebut membuat Guruh dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan serta berdiskusi mengenai beragam persoalan. “Mas Guruh merupakan pribadi yang hangat. Beliau bisa menerima semua kalangan dan berdiskusi tentang berbagai topik dengan siapa pun. Bagi kami, beliau bukan hanya seorang tokoh, tetapi juga seorang sahabat,” ungkap Ono.
Karena itu, Ono menilai kepergian Guruh meninggalkan kehilangan besar. Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang sepanjang hidupnya memberikan perhatian besar terhadap seni, kebudayaan, politik, dan kebangsaan. “Indonesia dan kita semua kehilangan sosok politisi, seniman, budayawan sekaligus seorang sahabat yang tidak pernah berhenti berkarya dan memberikan kontribusi untuk Indonesia,” tuturnya.
