Dari Srikandi hingga Nyi Roro Kidul, Lima Kisah Budaya Indonesia di Junior DBL Dance Bandung

Menjadi ruang bagi generasi muda untuk bercerita tentang Indonesia dengan cara mereka sendiri
Menjadi ruang bagi generasi muda untuk bercerita tentang Indonesia dengan cara mereka sendiri
0 Komentar

SMPN 1 Baleendah: Ketika Lagu Lama Kembali Menjadi Cerita

Kalau dua tim sebelumnya membawa budaya melalui kisah dan tradisi, SMPN 1 Baleendah memilih jalur yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.

Melalui konsep “Gen Z dan Rewind Lagu-lagu Indonesia yang Pernah Viral”, tim dance SMPN 1 Baleendah mengajak penonton bernostalgia dengan lagu-lagu Indonesia yang pernah menjadi bagian dari keseharian banyak orang.

Koreografi dibuat dinamis mengikuti perubahan lagu. Setiap musik tidak sekadar menjadi pengiring, tetapi menjadi bagian dari cerita tentang perjalanan Gen Z yang tumbuh bersama internet dan tren digital.

Baca Juga:Dari Rasa Penasaran hingga Jadi Andalan, Marshall Farez Menemukan Dirinya di BasketGreen Forest Resort & Wedding Hadirkan Flash Sale September, Deluxe Room Mulai Rp700 Ribu

Penampilan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap musisi Indonesia. Lagu-lagu yang pernah viral dihidupkan kembali melalui gerakan dan energi para penari.

Pada akhirnya, nostalgia tersebut berubah menjadi perayaan sederhana tentang kebersamaan dan pengalaman tumbuh sebagai generasi muda Indonesia.

SMP Waringin: Membawa Nyi Roro Kidul ke Panggung

SMP Waringin memilih legenda Nusantara sebagai pusat cerita. Melalui konsep “Abyssal Light: Rise of the Southern Queen”, mereka menghadirkan sosok Nyi Roro Kidul bersama delapan penari pengawalnya.

Panggung diubah menjadi gambaran dunia Laut Selatan. Sosok Nyi Roro Kidul divisualisasikan sebagai karakter yang kuat, berwibawa, dan penuh daya tarik.

Perpaduan unsur budaya Nusantara dengan modern dance membuat pertunjukan terasa dinamis. Gerakan cepat, perubahan tempo, serta formasi para penari digunakan untuk membangun suasana kebangkitan dari kegelapan.

Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana legenda yang sudah lama dikenal dapat diterjemahkan kembali menggunakan bahasa seni yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

CBCS: Dari Desa Menuju Gemerlap Kota

Sementara itu, Cahaya Bangsa Classical School membawa cerita yang lebih dekat dengan realitas kehidupan melalui konsep “Kabayanti Saba Kota”.

Baca Juga:99 Mahasiswa Tasikmalaya Dapat Beasiswa Baznas, Bupati: Kelak Jadi Pemberi ManfaatBakar Sampah Berujung Petaka, Lahan di Lingkar Gentong Tasikmalaya Terbakar

Pertunjukan ini berkisah tentang sekelompok anak desa yang untuk pertama kalinya memasuki kehidupan kota. Rasa penasaran, keheranan, hingga proses beradaptasi menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Perbedaan antara suasana desa dan gemerlap kota divisualisasikan melalui perpaduan tari tradisional Indonesia dan modern dance.

Kehadiran teknologi serta budaya urban menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi. Namun, pesan yang dibawa CBCS cukup jelas: mengikuti perkembangan zaman bukan berarti harus kehilangan identitas.

0 Komentar