“Kalau untuk mencegah sebenarnya kita sudah mengedukasi, sudah mencegah. Tapi kita enggak bisa mengontrol apakah masyarakat masih ada yang membuang ke sungai atau tidak,” tuturnya.
Setelah diangkut dari Sungai Cikakak, sampah hasil aksi World Clean Up Day 2026 tidak langsung dibawa ke tempat pembuangan sementara. Sampah tersebut akan dikirim ke fasilitas MRF milik River Cleanup Indonesia di Cigondewah untuk menjalani proses pemilahan.
Di tempat tersebut, sampah Sungai Cikakak akan dipisahkan berdasarkan jenisnya. Mulai dari plastik yang kondisinya sudah rusak, sampah residu, hingga sampah berbahan kain akan dipilah sebelum menentukan proses penanganan berikutnya.
Baca Juga:Kabar Gembira! Pemprov Jateng Bebaskan Denda dan Pajak Progresif Kendaraan Bermotor Mulai 21 September 2026Singaparna Segera Ditata, Dari Penataan Kios hingga Hotmix Terminal
“Jadi mana sampah yang plastik, yang sudah benar-benar jelek, mana yang residu, dan mana sampah kain. Itu nanti bakal dipilah di sana dan tentunya tidak masuk ke TPS,” jelas Sandi.
Sementara itu, sebagian sampah kering dari kawasan urban akan diarahkan ke bank sampah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya River Clean Up Indonesia dan Bank Sampah One Six Sauyunan agar sampah tidak seluruhnya berakhir sebagai residu.
Menurut Sandi, persoalan sampah di Sungai Cikakak tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan kegiatan bersih-bersih. Edukasi kepada masyarakat harus dilakukan secara konsisten, sebab sampah akan terus muncul apabila kebiasaan dari sumbernya tidak berubah.
“Karena ini bukan hanya kegiatan seremonial, tapi harus terus-terusan kita mengedukasi tanpa henti. Kalau urusan sampah, kita terus bakal ada sampahnya. Jadi kita juga enggak bakal berhenti untuk mengedukasi masyarakat,” tegasnya.
Melalui World Clean Up Day 2026, Sandi berharap aksi bersih Sungai Cikakak bisa menjadi pemantik bagi masyarakat Nyengseret untuk ikut menjaga lingkungan. Kehadiran relawan dari luar kawasan diharapkan dapat memberikan contoh bahwa membersihkan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas.
“Orang lain saja mau membersihkan wilayahnya sendiri, masyarakatnya harus bisa mencontoh. Mudah-mudahan ini men-trigger masyarakat di Nyengseret, khususnya, untuk mau memilah sampah atau membersihkan lingkungannya, minimal dari sumbernya masing-masing,” harapnya.
Terlebih, kawasan Nyengseret disebut menjadi salah satu kampung percontohan di Kota Bandung dalam hal pemilahan sampah. Karena itu, Sandi berharap gerakan membersihkan Sungai Cikakak tidak berhenti setelah World Clean Up Day 2026 berakhir.
