Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi, Ekonom: Kalau Naik, Inflasi Tak Terkendali

Pemerintah Tahan Harga BBM Subsidi, Ekonom: Kalau Naik, Inflasi Tak Terkendali
Ilustrasi proses pengisian BBM subsidi di SPBU. Dok. Magnific
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Keputusan pemerintah untuk tidak melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, diklaim menjadi langkah tepat yang dapat membantu menekan inflasi.

Hal itu disampaikan Ekonom Universitas Negeri Manado (Unima) Robert R Winerungan. Menurutnya, keputusan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar dapat menjaga daya beli masyarakat.

“Saya kira itu keputusan yang sangat bijak oleh pemerintah. Karena apabila pemerintah juga menaikkan harga Pertalite, maka inflasi bisa tidak terkendali,” ujarnya, mengutip ANTARA, Rabu (16/9/2026).

Baca Juga:Batal Batasi Akses Pinjol Masyarakat, OJK: Kebutuhan Masih TinggiPurbaya Kena Reshuffle, Prabowo Titip APBN Harus Dukung Program Prioritas ke Menkeu Baru

Menurut dia, tingginya kebutuhan masyarakat terhadap BBM subsidi kan memberikan efek domino jika terjadi kenaikan, yang akan berdampak pada naiknya ongkos transportasi hingga barang kebutuhan masyarakat.

Untuk itu, kata dia, pemerintah tidak bisa serta-merta menaikkan harga Pertalite dan Biosolar dan harus mengikuti mekanisme pasar. Mengingat perubahan harganya dapat memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi.

“BBM tidak naik saja harga-harga sudah naik, apalagi kalau BBM naik. Artinya, memang pemerintah tidak bisa begitu saja melempar harga Pertalite mengikuti harga pasar karena itu bisa berpotensi membebani masyarakat” paparnya.

Ia mengakui mempertahankan harga Pertalite Rp10 ribu per liter ketika harga minyak dunia sudah tembus 107 dolar AS per barel akan memberikan konsekuensi terhadap APBN.

Selisih antara harga keekonomian dan harga yang dibayarkan masyarakat pada akhirnya meningkatkan beban yang harus ditanggung pemerintah.

“Memang subsidi bisa membengkak. Tapi, manfaatnya, inflasi kita tidak terlalu tinggi dan daya beli masyarakat sedikit banyak dapat dipertahankan,” ujarnya.

Menurut Robert, tekanan ekonomi saat ini bahkan mulai mengubah pola konsumsi BBM sebagian kelompok masyarakat.

Baca Juga:Pendaftaran Binlat Polri 2026 Dibuka, Polres Tasikmalaya: Jangan Percaya Calo!Dari Jawa Tengah,  MTQ Nasional XXXI Pancarkan Kedamaian dan Pererat Kebersamaan

Ia melihat konsumen yang sebelumnya menggunakan Pertamax Turbo maupun BBM RON 92 mulai beralih menggunakan Pertalite untuk mengurangi pengeluaran.

“Kalau Pertalite naik, kelompok menengah akan semakin tertekan. Yang lebih kasihan lagi adalah masyarakat kelas bawah karena biaya transportasi akan naik dan sebagainya. Banyak efek turunannya apabila harga Pertalite naik,” kata Robert.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencatat rata-rata harga minyak nasional periode Januari-September 2026 berada di kisaran 85-90 dolar AS per barel atau lebih tinggi daripada asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

0 Komentar