Restrukturisasi Utang Whoosh Berikan Untung Rp800 M per Tahun, Benarkah?

Restrukturisasi Utang Whoosh Berikan Untung Rp800 M per Tahun, Benarkah?
Ilustrasi: Suasana didalam kereta cepat Whoosh beberapa waktu silam. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengklaim perusahaan yang dilibatkan dalam restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh, akan mendapat keuntungan besar.

Mengutip ANTARA, Rabu (9/9/2026), Purbaya mengatakan bahwa Whoosh akan memberikan keuntungan hingga Rp800 miliar per tahun kepada perusahaan pengelola utang yang baru nanti.

Adapun restrukturisasi utang Whoosh itu, kata dia, cukup ringan dengan skema cicilan sekitar Rp1 triliun per tahun dan tenor panjang, 80 tahun.

Baca Juga:Utang Kopdes Bakal Dibayar Pakai Dana Desa, Tak Ganggu Pembangunan?DPR RI Setujui Anggaran Kemenkeu Rp49,80 Triliun untuk 2027, Tak Kena Efisiensi?

“Total utang besar, tapi sudah direstrukturisasi 80 tahun, cicilannya Rp1 triliun atau sedikit di bawah dari tahun ke tahun. Ada yang tinggi, ada yang rendah,” ujarnya.

Untuk itu, ia meyakini Kemenkeu masih sanggup menangani utang Whoosh tersebut. Dengan melibatkan perusahaan special vehicle mission (SMV) atau Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kemenkeu.

Sejauh ini, ia mempertimbangkan Indonesia Investment Authority (INA) serta PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) untuk menjalankan mandat tersebut. Namun, mengingat beban cicilan yang relatif lebih ringan, ia membuka peluang menunjuk hanya satu SMV untuk mengelola utang Whoosh.

“Saya cuma lihat bebannya setiap tahun seperti apa. Kalau segini saja cukuplah ditangani oleh satu SMV di bawah Kementerian Keuangan,” kata Menkeu.

Proses peralihan tanggung jawab pengelolaan utang proyek KCJB dari Danantara ke Kemenkeu direncanakan pada 15 September 2026.

Usai dialihkan ke pemerintah, Menkeu Purbaya berencana mengembangkan proyek Whoosh ke wilayah lainnya. Ia menargetkan jalur Whoosh dapat diperpanjang hingga ke Jawa Timur.

“Nanti kami tarik ke Jawa Timur. Kan jadi punya saya (pemerintah), punya SMV kan itu kereta cepatnya. Kami akan tarik ke Jawa Timur. Saya sudah bicara dengan Menteri Keuangan China dan siapa yang berwenang di sana, sepertinya mereka tertarik,” tuturnya.

Baca Juga:Purbaya Klaim Whoosh Tak Bebani APBN Usai Diambilalih Kemenkeu, Benarkah?Restrukturisasi Utang Whoosh Rampung, Menkeu: Tinggal Diumumkan

Ia pun meyakini SMV atau BLU Kemnekeu memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola utang Whoosh.

Menurut Purbaya, salah satu perusahaan SMV dapat membukukan keuntungan sekitar Rp3 triliun hingga Rp4 triliun per tahun.

0 Komentar