Pengamat Soroti Rencana Tata Ulang Teras Cihampelas: Jangan Sekadar Bongkar, Harus Ada Evaluasi Konsep

teras cihampelas
Suasana bagian Teras Cihampelas yang ditutup serta terbengkalai di Kota Bandung, Rabu (9/9/2026). Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membongkar Teras Cihampelas dan menata ulang kawasan tersebut pada 2027 dengan konsep trotoar, tempat duduk, serta penerangan jalan. Sebanyak 15 pedagang yang masih berjualan akan dicarikan solusi agar tetap dapat berusaha. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Yudi juga menilai aspek pedagang tidak boleh dipisahkan dari desain kawasan. Keberadaan sekitar 15 pedagang yang masih aktif harus menjadi bagian dari evaluasi sebelum pembongkaran dilakukan.

“Kalau pedagang direlokasi, harus dipikirkan apakah lokasi baru memiliki potensi pengunjung dan akses yang memadai. Jangan sampai secara fisik pedagang sudah dipindahkan, tetapi secara ekonomi justru kehilangan sumber penghasilannya,” ujarnya.

Pemerintah sebelumnya menyatakan akan menyiapkan solusi bagi 15 pedagang yang masih berjualan di Teras Cihampelas sebelum pembongkaran dilakukan. Namun, bentuk relokasi maupun skema dukungan bagi pedagang tersebut belum dirinci. Lebih jauh, Yudi menyebut penataan kembali Cihampelas harus melihat kawasan tersebut sebagai satu kesatuan, bukan hanya titik Teras Cihampelas.

Baca Juga:Pemkot Bandung Rampungkan Administrasi Pengalihan Aset Teras Cihampelas ke Pemprov JabarKewenangan Jalan dan Teras Cihampelas Pindah ke Pemprov, Pengamat Ingatkan Harus Diikuti Revitalisasi Menyeluh

Menurut dia, Jalan Cihampelas memiliki karakter sebagai kawasan perdagangan dan wisata yang sudah lama dikenal masyarakat. Karena itu, penataan pedestrian harus mampu memperkuat identitas kawasan sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di sepanjang koridor jalan.

“Kalau Cihampelas ingin dihidupkan kembali, maka yang ditata bukan hanya trotoarnya. Harus ada konektivitas antara pedestrian, pertokoan, ruang publik dan aktivitas ekonomi. Orang datang bukan hanya untuk lewat, tetapi punya alasan untuk berhenti dan beraktivitas,” katanya.

Yudi pun menilai rencana penataan pada 2027 dapat menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi terhadap konsep Teras Cihampelas yang telah berjalan sejak 2017.

“Ini sebenarnya kesempatan untuk melakukan evaluasi. Apa yang berhasil dipertahankan, apa yang tidak berhasil diperbaiki. Jadi jangan melihat bangunan lama hanya sebagai sesuatu yang harus dibongkar, tetapi sebagai pengalaman yang bisa menjadi pelajaran untuk desain yang baru,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah melibatkan akademisi, masyarakat, pedagang, pelaku usaha, serta pengguna jalan dalam proses perencanaan sehingga desain yang dihasilkan tidak hanya bagus secara visual, tetapi juga berfungsi dalam jangka panjang.

“Yang paling penting bukan apakah bentuknya baru atau lama. Ukurannya adalah apakah setelah ditata masyarakat menjadi lebih nyaman, pedestrian lebih hidup, ekonomi lokal bergerak dan kawasan Cihampelas kembali memiliki daya tarik,” kata Yudi.

0 Komentar