Implementasi Teknologi Tepat Guna ITB Atasi Persoalan Sampah di Bandung

Implementasi Teknologi Tepat Guna ITB Atasi Persoalan Sampah di Bandung
Implementasi Teknologi Tepat Guna ITB
0 Komentar

ITB juga memperkenalkan ember tanam Jangsesa yang mengombinasikan proses komposting di dalam tanah dengan budidaya Black Soldier Fly (BSF).

Teknologi tersebut memungkinkan pengolahan limbah organik sekaligus pemanenan larva BSF dengan mengurangi kontak langsung pengelola dengan limbah serta potensi cemaran dari lalat lainnya.

“Berdasarkan data pelaksanaan program, sejak 8 Maret hingga 1 September 2026 telah digunakan 210 ember Jangsesa. Dari jumlah tersebut tercatat sekitar 145 kilogram sampah berhasil diolah dengan hasil panen mencapai 57 kilogram,” paparnya.

Baca Juga:Dapur SPPG Bojonggambir Meledak, Tiga Orang Alami Luka BakarShopeePay Dukung Adopsi QRIS Nasional, Hadirkan Pasti Cashback Saldo hingga Rp100.000 untuk Pengguna

Selain Jangsesa, ITB juga menerapkan teknologi Loseda. Sejak 8 April hingga 8 September 2026, tercatat sebanyak 40 unit Loseda digunakan dengan kapasitas muatan sampah mencapai 3,3 kilogram.

Teknologi lainnya adalah vermikompos dan insect composting. Pendekatan tersebut digunakan untuk mengolah jenis limbah organik tertentu, terutama limbah berbasis sayuran dan serat yang relatif sulit dicerna oleh BSF.

“Program juga mencakup pengembangan metode penyimpanan dan pengolahan bahan makanan, sistem urban farming dengan memanfaatkan produk turunan pengolahan sampah, serta pengembangan bank sampah mini,” katanya.

Revitalisasi Fasilitas

Tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, ITB juga melakukan revitalisasi sejumlah fasilitas pengolahan sampah yang telah tersedia di lokasi.

Revitalisasi dilakukan terhadap tempat koleksi sampah dengan memperbaiki dan memasang wadah yang mendukung pemilahan sampah secara terukur.Instalasi pengolahan limbah menggunakan BSF juga diperbaiki, terutama berkaitan dengan prosedur operasional standar (SOP), pengendalian aroma, serta pengelolaan hasil panen dan pascapanen BSF.

Pada fasilitas pengomposan, ITB melakukan sejumlah perbaikan. Metode pengomposan aerobik di permukaan yang selama ini diterapkan dinilai menghadapi kendala keterbatasan tenaga kerja.

Untuk mempercepat proses, disediakan mesin pencacah sampah sehingga ukuran material menjadi lebih kecil. Masyarakat juga diperkenalkan dengan metode bokashi serta bagging composting untuk mengolah limbah taman dan sampah rumah tangga.

Baca Juga:Bupati Cecep Tuntut Kontribisi Nyata BUMD untuk DaerahPerpres Ojol Fokus Atur Potongan Layanan Antaran Makanan dan Barang

Revitalisasi turut menyasar fasilitas bata terawang dan Loseda. Penggunaan bata terawang diperbaiki agar tidak hanya menjadi fasilitas produksi kompos yang membutuhkan waktu lama. Sementara Loseda ditingkatkan fungsi sekaligus nilai estetikanya.

Fasilitas peternakan ayam juga diperbaiki untuk mengurangi dampak lingkungan yang dikeluhkan masyarakat. Kandang tersebut dirancang agar dapat menjadi bagian dari taman sekaligus ruang berkumpul warga.

0 Komentar