Suara sorak dan gelak tawa anak-anak pecah di Lapangan Terbuka Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Selasa (1/9/2026).
Firman Satria, Jabar Ekspres
Di tengah derasnya arus permainan digital, mereka justru sibuk menjaga keseimbangan di atas egrang, beradu cepat dalam permainan bakiak, hingga menguji kekuatan dalam dogongan.
Ditengah teriknya matahari, Olahraga Tradisional 2026 Kecamatan Rancasari menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali mengenal permainan yang tumbuh dari tradisi masyarakat.
Baca Juga:Jateng Matangkan Persiapan Menyambut 2.833 Kafilah MTQ Nasional XXXIDari Kesehatan hingga Pengentasan Kemiskinan, Inilah Program Pemprov Jateng yang Berdampak ke Warga
Tak sekadar perlombaan, kegiatan tersebut menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan kembali kaulinan urang Sunda sekaligus mendorong anak-anak lebih aktif bergerak.
Demikian disampaikan oleh Ketua Kegiatan Festival Olahraga Tradisional Kecamatan Rancasari, Apep Wahid yang mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang untuk menghidupkan kembali permainan tradisional yang mulai tersisih oleh gawai.
“Tujuannya untuk memulai kembali kaulinan-kaulinan urang Sunda. Anak-anak sekarang jangan terlalu banyak bermain gawai. Alhamdulillah, dengan adanya acara ini mereka antusias, seperti yang kita lihat sekarang,” ujar Apep saat ditemui Jabar Ekspres di sela kegiatan.
Ada enam cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan dalam kegiatan tersebut. Yakni egrang, balok, dogongan, hadang, sumpit, dan bakiak.
Menurut Apep, cabang-cabang tersebut bukan permainan sembarangan. Sejumlah di antaranya juga dipertandingkan dalam kompetisi olahraga tradisional mulai tingkat kota, kabupaten, provinsi hingga nasional.
“Ini ada enam cabang yang biasa dilombakan di tingkat kota, kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Ada egrang, balok, dogongan, hadang, sumpit, dan bakiak,” katanya.
Bagi Kecamatan Rancasari, olahraga tradisional bukan hal baru. Apep menyebut wilayahnya memiliki rekam jejak cukup baik dalam kompetisi tingkat Kota Bandung.
Baca Juga:Mengenal Indriyani Rachman, Ph.D.: Merajut Pengetahuan Lingkungan dan Kesiapsiagaan BencanaTitik Sadrah Jadi Konser Terakhir for Revenge? Boniex dan Chimot Buka Suara
Sejak dirinya terlibat sebagai penggerak kegiatan tersebut, Rancasari disebut selalu mampu meraih gelar juara umum dalam kompetisi olahraga tradisional antarkecamatan di tingkat kota.
“Alhamdulillah, semenjak saya menjadi penggeraknya, Rancasari selalu juara umum di tingkat kota,” ujar Apep.
Namun, menurut dia, geliat kompetisi olahraga tradisional di tingkat kota sempat terhenti. Ia menyebut kegiatan serupa tidak lagi digelar secara rutin oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) sejak sekitar 2022.
“Setelah empat tahun, saya juga merasa heran dan bingung kenapa Dispora tidak pernah mengadakan lagi. Kalau kegiatan seperti ini, Rancasari setiap tahun selalu ada, terutama dalam rangka HJKB,” katanya.
