Bukan Sekadar Lomba, Olahraga Tradisional 2026 Rancasari Jadi Cara Anak Jauh dari Gawai

Dua siswa mengikuti perlombaan tradisional lari balok pada festival permainan tradisional Jawa Barat di Kantor
Dua siswa mengikuti perlombaan tradisional lari balok pada festival permainan tradisional Jawa Barat di Kantor Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, Selasa (1/9/2026). Festival permainan tradisional yang diikuti oleh 300 siswa dari 10 Sekolah Dasar di Kota Bandung tersebut menjadi upaya mengenalkan dan menjaga keberlangsungan permainan tradisional Jawa Barat kepada generasi muda serta memperingati hari jadi Kota Bandung ke-216 yang pada 25 September mendatang. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Kegiatan Olahraga Tradisional 2026 di Kecamatan Rancasari memang menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB). Tahun ini, antusiasme peserta kembali terlihat dari keterlibatan sejumlah sekolah dasar di wilayah tersebut.

Dari 15 SD yang berada di Kecamatan Rancasari, sembilan sekolah ikut ambil bagian. Jumlah pesertanya mencapai sekitar 300 siswa.

“Yang ikut ada sembilan SD. Totalnya sekitar 300-an murid atau atlet,” kata Apep.

Baca Juga:Jateng Matangkan Persiapan Menyambut 2.833 Kafilah MTQ Nasional XXXIDari Kesehatan hingga Pengentasan Kemiskinan, Inilah Program Pemprov Jateng yang Berdampak ke Warga

Jumlah tersebut menjadi gambaran bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat ketika diberikan ruang. Anak-anak yang sehari-hari akrab dengan layar ponsel dan permainan digital, untuk sementara berpindah ke lapangan dan bermain bersama.

Bagi Apep, tujuan utama kegiatan bukan semata-mata mencari siapa yang menjadi juara. Ada harapan lebih panjang agar olahraga tradisional kembali diminati anak-anak dan menjadi salah satu jalur pengembangan prestasi.

Ia berharap kegiatan di tingkat kecamatan dapat menjadi pemantik agar pembinaan olahraga tradisional kembali mendapatkan perhatian lebih besar dari pemerintah.

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, motivasi anak-anak bisa lebih berkembang. Kami juga berharap mendapat perhatian dari pimpinan di atas, terutama Dispora yang selama ini belum mengadakan kegiatan seperti ini,” tuturnya.

Apep ingin gerakan yang dimulai dari Kecamatan Rancasari dapat kembali menggugah perhatian terhadap olahraga tradisional di tingkat Kota Bandung.

“Dengan adanya pergerakan di kecamatan, khususnya Rancasari, mudah-mudahan motivasi ini bisa tergugah kembali dari Dispora,” katanya.

Lebih jauh, ia melihat olahraga tradisional juga dapat menjadi pintu bagi anak-anak untuk mengejar prestasi sekaligus membuka kesempatan melanjutkan pendidikan.

Baca Juga:Mengenal Indriyani Rachman, Ph.D.: Merajut Pengetahuan Lingkungan dan Kesiapsiagaan BencanaTitik Sadrah Jadi Konser Terakhir for Revenge? Boniex dan Chimot Buka Suara

“Harapannya anak-anak bisa berprestasi di bidang olahraga tradisional. Anak-anak yang berprestasi juga bisa masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, misalnya dari SD ke SMP favorit dan dari SMP ke SMA favorit,” ujar Apep.

Pengalaman selama empat tahun terakhir, kata dia, menunjukkan bahwa prestasi olahraga dapat menjadi bagian dari perjalanan pendidikan siswa. Kecamatan Rancasari bahkan ikut membantu sejumlah anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke SMP maupun SMA negeri.

Dari permainan yang tampak sederhana itu, ada sesuatu yang lebih besar sedang dijaga, tradisi, kebersamaan, kesehatan, dan kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh melalui olahraga.

0 Komentar