Makanan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Cara Atur Gizi Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi

Makanan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Cara Atur Gizi Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi
Makanan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Cara Atur Gizi Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi
0 Komentar

Menurut Dewa, ketika anggaran rumah tangga semakin terbatas, yang sering dikorbankan bukan jumlah makanan atau kalori, melainkan kualitas gizinya.

Beras tetap dibeli, tetapi lauk yang menjadi sumber protein justru dikurangi. Alokasi untuk ikan, udang, cumi, telur, susu, hingga daging cenderung semakin kecil.

“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” katanya.

Baca Juga:Maulid Nabi Jadi Momentum, Polres Tasikmalaya Rangkul Komunitas Ojol dalam Doa BersamaBukan Sekadar Seremonial, KNPI Cianjur Pastikan Program Kepemudaan Tepat Sasaran dan Terukur

Telur dan Ikan Bisa Jadi Pilihan Protein EkonomisDewa mengatakan protein hewani kerap dianggap sebagai bahan makanan mahal. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena sumber protein hewani sangat beragam.

Menurutnya, persepsi mahal sering kali dipengaruhi oleh harga daging sapi. Padahal, keluarga masih memiliki pilihan lain seperti ikan, ayam, telur, dan susu.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu. Ini masih kurang optimal dikonsumsi dan sebetulnya bisa dikonsumsi lebih banyak,” jelasnya.

Ia menyebut telur dan ikan dapat menjadi pilihan utama sumber protein hewani untuk kebutuhan sehari-hari keluarga. Sementara susu dapat dikonsumsi sebagai pelengkap untuk meningkatkan kualitas gizi.

Dewa juga mengingatkan agar tekanan ekonomi tidak membuat kebutuhan gizi anak diabaikan. Menurutnya, kekurangan asupan gizi dalam jangka panjang dapat berdampak terhadap kemampuan fisik dan kognitif anak.

“Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” tegasnya.

Ia menilai kesenjangan akses terhadap makanan bergizi juga dapat berdampak terhadap kualitas generasi mendatang. Selain menurunkan produktivitas, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko penyakit dan biaya kesehatan di masa depan.

Baca Juga:Kebakaran TPA Cioray Mangunreja, Api Masih Dalam Proses PemadamanFitHub Kopo dan Surya Sumantri Ditutup, Pemilik Klaim Kerja Sama Diduga Franchise Ilegal

Makanan Sehat Tidak Harus MahalAhli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., menegaskan bahwa makanan sehat tidak selalu identik dengan makanan mahal.

“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” kata Tara.

Menurutnya, rata-rata masyarakat Indonesia sebenarnya telah memenuhi kebutuhan kalori harian. Namun, asupan tersebut masih banyak didominasi oleh karbohidrat.

0 Komentar