Apartemen Ayam-Maggot Tamansari, Inovasi ITB yang Diklaim Mampu Atasi 250 Kg Sampah Organik

Petugas membuka kandang BSF yang berisi lalat di kandang maggot di kawasan Tamansari, Kota Bandung, Kamis (20/
Petugas membuka kandang BSF yang berisi lalat di kandang maggot di kawasan Tamansari, Kota Bandung, Kamis (20/8/2026). Fasilitas Apartemen Ayam Maggot yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut mengintegrasikan peternakan ayam dengan pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan mampu mengolah sekitar 200-250 kilogram sampah organik dapur setiap hari. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular terus dikembangkan di Kota Bandung. Salah satunya melalui konsep apartemen ayam-maggot di kawasan Tamansari yang dikembangkan sebagai bagian dari proyek inovasi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Konsep tersebut mengintegrasikan pengolahan sampah organik dengan budidaya maggot dan pemeliharaan ayam. Sampah organik yang telah dipilah dimanfaatkan sebagai pakan untuk maggot, sebelum maggot kemudian digunakan sebagai salah satu sumber pakan ayam.

Inovasi ini diklaim mampu menangani hingga 250 kilogram sampah organik per hari, sehingga diharapkan dapat mengurangi beban sampah yang harus dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Baca Juga:Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Kebakaran Gardu Listrik Pabrik Gula di SingaparnaKorban PHK di Cimahi Tak Dibiarkan Terpuruk, Pemkot Dorong Bangkit Lewat Usaha Laundry

Penjaga insinerator sekaligus tenaga pembantu apartemen ayam Tamansari, Markum mengatakan, proyek tersebut telah berjalan sekitar dua bulan lebih. Saat ini terdapat sekitar 40 ekor ayam yang dipelihara di lokasi.

“Proyek ini sudah dua bulan, dua bulan lebih. Waktu ayamnya sampai, umurnya sekitar empat bulan. Jumlahnya kurang lebih 40 ekor,” ujar Markum, Kamis (20/8).

Menurutnya, perawatan ayam dilakukan secara rutin, terutama pada pagi, siang, dan sore hari. Sementara itu, salah satu sumber pakan yang digunakan berasal dari maggot.

Maggot tersebut dibudidayakan menggunakan bahan organik yang telah melalui proses pemilahan. Tidak semua sampah organik dapat digunakan sebagai pakan maggot.

“Organiknya tidak asal organik. Tidak boleh ada minyak, tidak boleh ada sambal. Kalau yang bagus itu buah-buahan,” katanya.

Setelah maggot tumbuh lebih besar, maggot tersebut kemudian diberikan kepada ayam dengan dicampur bersama pakan lainnya.

Konsep tersebut membuat rantai pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengolahan, tetapi menghasilkan produk lanjutan berupa maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Baca Juga:UPI Konsisten Dorong RUU Sisdiknas, Wakil Ketua DPR RI: UPI Paham Persoalan PendidikanDan Bandung Guncang Kota Kembang Selama Dua Hari, Bawa Kisah Cinta Pidi Baiq Pulang ke Rumah

Markum mengatakan, ayam yang saat ini dipelihara jenis ayam petelur. Diperkirakan ayam tersebut baru akan mulai bertelur sekitar satu bulan mendatang.

Meski masih dalam tahap pengembangan, konsep apartemen ayam-maggot ini menjadi salah satu bentuk inovasi pengelolaan sampah organik di lingkungan perkotaan.

Dengan memanfaatkan sampah organik yang telah dipilah sebagai bahan budidaya maggot, kemudian memanfaatkan maggot sebagai pakan ayam, sistem tersebut diharapkan dapat menciptakan pola pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

0 Komentar